PEKANBARU(Haluanpos.com)-
Keberadaan sebuah monumen disuatu daerah bukanlah sebagai bentuk bangunan fisik belaka,  melainkan sebagai simbol visual yang memiliki fungsi krusial dalam merawat sejarah, budaya, dan identitas lokal.

Maka dari itu, keberadaan monumen yang memiliki pungsi sebagai identitas lokal dan sekaligus menjadi daya tarik destinasi perlu dibangun oleh pemerintah daerah agar simbol pelestarian warisan budaya tersebut diketahui oleh semua elemen masyarakat luas.

Melihat kondisi kota Pekanbaru yang masih kurang akan pembangunan monumen identitas lokal, maka sekretaris umum  MKA LAMR Pekanbaru, Datuk Tengku Arifin mengusulkan pembangunan monumem budaya melayu ke Pemko Pekanbaru, sebagai jati diri masyarakat kota Pekanbaru yang sesuai dengan visi dan misi kepala daerah. Rabu(4/3)

Pertama, monumen Motif Tampuk Manggis, Bolu Kembojo dan Pucuk Rebung. Dimana konsep desain “Sinergi Budaya Riau” memiliki filosofi yakni :
1. Inti Filosofis: Tampuk Manggis dan Bolu Kembojo di jantung monumen terdapat bentuk bulat yang mengintegrasikan dua motif ikonis:
* Tampuk Manggis (Kejujuran & Konsistensi): Dalam budaya Melayu, motif ini adalah simbol kejujuran dan keselarasan antara lahir dan batin. Jumlah kelopak pada tampuk manggis selalu sama dengan jumlah isi buah di dalamnya. Ini adalah pesan bagi masyarakat Pekanbaru untuk senantiasa transparan, jujur, dan konsisten dalam bertindak.
* Bolu Kembojo (Identitas & Keramahtamahan): Sebagai kuliner khas, ia melambangkan manisnya persaudaraan dan kehangatan dalam menyambut tamu. Motif bunga yang geometris dari cetakan bolu ini memberikan kesan estetik yang sangat dekoratif, mencerminkan ketelitian dan kehalusan budi pekerti masyarakat lokal.

MENARIK DIBACA:  Alumni FU UIN Suska Riau diamanahkan Wakil Ketua DPRD Pelalawan

Sementara itu, struktur pelindung: Pucuk Rebung struktur yang melengkung ke atas menyelimuti bagian inti monumen adalah stilasi dari Motif Pucuk Rebung.
* Filosofi Pertumbuhan: Pucuk rebung melambangkan pertumbuhan yang cepat, kokoh, dan selalu tumbuh ke atas. Ini adalah doa bagi Kota Pekanbaru agar terus maju, berkembang pesat, namun tetap memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai tradisi.
* Keamanan dan Perlindungan: Secara visual, bentuk lengkungan ini berfungsi sebagai “kerangka pelindung” yang menjaga nilai-nilai luhur (tampuk manggis/bolu kembojo) tetap terjaga di tengah modernisasi kota.

Untuk elemen air mancur  yang mengelilingi monumen bukanlah sekadar pemanis visual, melainkan elemen vital:
* Simbol Kehidupan: Air melambangkan sumber kehidupan, rezeki yang mengalir, dan kesegaran bagi kota.
* Pembersihan & Ketenangan: Bunyi gemericik air memberikan suasana tenang bagi warga yang melintas, menjadi penyeimbang di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Pekanbaru yang dinamis.

MENARIK DIBACA:  Kebahagiaan Syaiful Saat Menerima Bantuan Dari Rumah Yatim

Adapun penempatan monumen ini disarankan dipersimpangan Jalan Arifin Ahmad dan Jalan Jendral Sudirman kota Pekanbaru,” ungkap Tengku Arifin

Kemudian perlu dibangun monumen ikonik di Kota Pekanbaru yang menggabungkan estetika modern dengan kedalaman filosofi budaya Melayu.

Adapun konsep desain yakni “Tugu Sirih Madani”

1. Deskripsi Visual
Bentuk Utama: Lima helai daun sirih raksasa yang disusun melingkar namun mengerucut ke atas, membentuk siluet seperti kelopak bunga yang belum mekar sepenuhnya.
* Material daun Smsirih menggunakan material plat tembaga atau kuningan dengan finishing hijau oksidasi alami yang elegan, memberikan kesan kokoh namun organik.
* Struktur: Rangka baja tahan karat (stainless steel) yang kuat di bagian dalam.
* Detail: Permukaan daun tidak rata (tekstur timbul) yang menonjolkan guratan serat daun secara detail.
* Pencahayaan (Lighting): Saat malam hari, bagian cekungan di antara helai daun akan memancarkan cahaya warm white dari lampu LED tanam, memberikan kesan “bercahaya dari dalam”.
* Dasar Monumen (Plinth): Berbentuk lingkaran dengan pola ukiran pucuk rebung khas Melayu Riau di sekeliling dasarnya, sebagai simbol pertumbuhan dan harapan.

MENARIK DIBACA:  Aksi Guru se Pekanbaru Sebut Sekdako sudah Tamat

2. Filosofi Mendalam
Desain ini bukan sekadar dekorasi kota, melainkan narasi visual masyarakat Pekanbaru:
* Simbol Kerendahan Hati: Daun sirih secara tradisional digunakan dalam tepak sirih untuk menyambut tamu. Ini melambangkan masyarakat Pekanbaru yang rendah hati, terbuka, dan sangat memuliakan tamu/orang lain.
* Angka Lima (Rukun Islam & Iman): Lima helai daun menjadi pengingat akan fondasi spiritual yang kuat. Ini menegaskan bahwa “Adat Bersendikan Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah”—bahwa setiap gerak langkah masyarakat Pekanbaru selalu berpijak pada hukum agama (Islam) dan nilai-nilai kitab suci.
* Harmoni dalam Keberagaman: Meskipun helai daunnya terpisah, mereka disatukan dalam satu titik pusat yang sama. Ini melambangkan masyarakat Pekanbaru yang heterogen (majemuk), namun tetap teguh hidup berdampingan, bersatu, dan harmonis di bawah satu payung kebangsaan.

3. Penempatan yang Disarankan
Tugu ini sangat cocok ditempatkan di area terbuka seperti bundaran di persimpangan utama (misalnya dekat akses bandara atau area pusat kota) agar menjadi penanda identitas yang kuat bagi siapapun yang memasuki Kota Pekanbaru.

Jadi, kita dari LAMR kota Pekanbaru hanya mengusulkan agar pemerintah kota Pekanbaru bisa membangun Dua monumen tersebut,” harap Datuk Tengku Arifin.(YS)

By admin