Riau – Menjadi mahasiswa bukan alasan untuk berhenti berkarya. Itulah yang dibuktikan oleh dua anak muda Gen Z, Perdi dan Rafa. Di tengah kesibukan kuliah, keduanya sukses merintis brand minuman kekinian Choco Sigma yang kini mulai hits di kalangan anak muda.
Berawal dari ide sederhana dan modal pas-pasan, Perdi dan Rafa nekat memulai bisnis minuman cokelat dan kopi. Niatnya simpel: ingin punya penghasilan tambahan tanpa harus menunggu lulus. Tapi siapa sangka, dari langkah kecil itu Choco Sigma justru berkembang jadi brand yang makin dikenal, terutama karena dekat dengan selera Gen Z.
“Awalnya cuma iseng cari tambahan uang jajan, eh malah keterusan. Ternyata bikin usaha itu bukan cuma soal cuan, tapi juga soal mimpi dan keberanian buat mulai duluan,” ujar Perdi. Rafa menambahkan, “Kalau nunggu siap, nggak akan mulai-mulai. Justru dari belajar jalan, kita bisa nemu cara.”
Meski jadwal kuliah padat, keduanya tetap bisa balance antara tugas kampus dan bisnis. Malah, mereka mengaku banyak belajar soal manajemen waktu, leadership, dan mental tahan banting lewat pengalaman ini. Tantangan tentu ada—dari modal minim, jualan sepi, sampai komentar orang sekitar—tapi itu semua nggak bikin mereka mundur.
Bagi Perdi dan Rafa, Choco Sigma adalah bukti nyata kalau Gen Z punya daya juang luar biasa. Mereka ingin menunjukkan bahwa kreativitas plus konsistensi bisa jadi jalan sukses sejak muda. “Anak muda jangan takut gagal, karena gagal itu bagian dari proses. Yang penting berani mulai, serius, dan jangan gampang nyerah,” pesan mereka.
Kini, keduanya bercita-cita membawa Choco Sigma lebih besar lagi, bukan cuma sekadar brand minuman, tapi juga wadah inspirasi dan lapangan kerja baru.