KUANTAN SINGINGI(Haluanpos.com)- Semangat menghidupkan kembali tradisi penulisan mushaf Alquran di Riau mengemuka dalam Seminar Kaligrafi bertema Menghidupkan Tradisi Suci Menulis Mushaf Alquran yang digelar di Gedung Abdur Rauf, Kabupaten Kuantan Singingi, Selasa (30/6/2026).
Seminar yang ditaja Perkumpulan Kaligrafi dan Zukhrufa Indonesia (Perkazi) Riau itu menghadirkan maestro kaligrafi Indonesia, Dr. KH. Didin Sirodjuddin AR, M.Ag., dan budayawan Melayu Riau sekaligus kaligrafer, Dr. H. Griven H. Putera, M.Ag. Acara dipandu Ketua Perkazi Riau, Rafles, S.H., M.H.
Seminar dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi, H. Suhelmon, M.A., CQEM. Hadir pula Ketua LPTQ Kabupaten Kuantan Singingi, H. Yaramis, para majelis hakim kaligrafi Provinsi Riau, peserta Musabaqah Seni Kaligrafi Alquran (MSKQ) MTQ XLIV Tingkat Provinsi Riau, serta para pencinta seni khat Alquran dari berbagai daerah.
Dalam pemaparannya, KH. Didin Sirodjuddin AR menegaskan bahwa tradisi menulis mushaf Alquran merupakan tradisi suci yang memiliki nilai ibadah sangat tinggi. Menurutnya, menyalin mushaf Alquran termasuk amal jariah yang pahalanya terus mengalir.
“Mewariskan mushaf merupakan amal jariah, sedangkan menuliskan Alquran adalah bentuk wakaf terbaik yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh generasi setelahnya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Mushaf Nusantara yang berhasil diwujudkan para khattat Indonesia merupakan salah satu mushaf terindah di dunia. Keistimewaan mushaf tersebut terletak pada iluminasi berwarna yang menghiasi setiap halaman dengan ragam ornamen khas Nusantara yang memikat.
Sementara itu, Dr. H. Griven H. Putera menjelaskan bahwa gagasan menghadirkan Mushaf Riau bukanlah konsep baru. Menurutnya, Riau memiliki tradisi penyalinan mushaf yang telah berkembang sejak abad ke-19, di antaranya melalui karya Syekh Muhammad Sa’id Ranah Kumpai. Selain itu, hingga kini masih terdapat sejumlah manuskrip mushaf Alquran warisan ulama Riau yang tersimpan, terutama di Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru.
“Keberadaan mushaf-mushaf tersebut hendaknya menjadi panduan sekaligus sumber inspirasi dalam menghadirkan Mushaf Riau modern yang tetap berpijak pada khazanah Melayu dan identitas keilmuan Riau,” katanya.
Ia menambahkan, mushaf-mushaf Riau memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari manuskrip Alquran di wilayah Nusantara lainnya, seperti Aceh maupun Jawa. Kekhasan itu, menurutnya, merupakan modal penting untuk melahirkan sebuah mushaf yang merepresentasikan identitas budaya Melayu dan tradisi intelektual Islam di Bumi Lancang Kuning.
Griven juga mengungkapkan bahwa gagasan mewujudkan Mushaf Riau telah lama diperjuangkan para kaligrafer Riau. Bahkan, pada 23 November 2011 ia telah menulis artikel di Harian Riau Pos berjudul Menuju Mushaf Riau sebagai bentuk ikhtiar menghidupkan kembali cita-cita tersebut.
“Lima belas tahun yang lalu saya sudah menggaungkan pentingnya menghadirkan Mushaf Riau tersebut. Kini saatnya cita-cita itu diwujudkan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, penyusunan Mushaf Riau merupakan pekerjaan besar yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Kementerian Agama, LPTQ Provinsi maupun kabupaten/kota, perguruan tinggi, budayawan, seniman, korporasi, hingga para kaligrafer Riau.
“Ini bukan pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar Mushaf Riau benar-benar dapat diwujudkan. Apabila berhasil, ia akan menjadi warisan peradaban Melayu dan kado yang sangat berharga bagi generasi Riau di masa depan,” katanya.
Usai seminar, panitia menyerahkan piagam penghargaan kepada 28 kaligrafer Riau yang telah berpartisipasi dalam penulisan Mushaf Nusantara.
Penghargaan diserahkan secara langsung oleh Dr. KH. Didin Sirodjuddin AR, Dr. H. Griven H. Putera, Ketua LPTQ Kabupaten Kuantan Singingi H. Yaramis, serta Majelis Hakim MSKQ Provinsi Riau, Ustaz Nana Nashiruddin, S.Pd., bersama anggota majelis hakim kaligrafi lainnya.
Seminar ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan tradisi penulisan mushaf Alquran di Riau sekaligus langkah awal menuju terwujudnya Mushaf Riau modern yang berakar pada warisan manuskrip Riau klasik, namun hadir dengan kualitas penulisan, iluminasi, dan kajian ilmiah yang mampu menjadi kebanggaan masyarakat Riau dan Indonesia.(YS)
