PEKANBARU(Haluanpos.com)—Putaran ekonomi disektor perhotelan di Riau semakin lesu, hal disebabkan semakin berkurangnya kegiatan pemerintah yang digelar di hotel-hotel. Sementara kebutuhan operasional terus meningkat dan kondisi ini membuat pihak perhotelan hanya bisa membuat strategi bertahan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau, Ir,Nofrizal, MM menjelaskan, bahwa semakin berkurangnya kegiatan pemerintah di hotel-hotel selama ini, hal ini menjadi salah satu menurunnya sumber pendapatan pihak hotel,” ungkap Nofrizal. Senin(26/10/26)
“Jangankan kegiatan besar, kegiatan kecil-kecil pun semakin berkurang, bahkan jauh menurun jika dibandingkan sebelum-sebelumnya. Kalau kegiatan ini membebani APBD, kan bisa dikurangi, artinya pemerintah perlu menyesuaikan dengan skala acara dan kebutuhan peserta. Ia mencontohkan, kegiatan yang menghadirkan lebih dari 500 orang dapat mempertimbangkan hotel berbintang Empat atau Lima. Sementara itu, acara dengan peserta lebih sedikit dapat diselenggarakan di hotel berbintang Satu hingga Tiga. Bahkan kegiatan kementerian yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga semakin jarang terlihat. Kondisi tersebut membuat pelaku perhotelan menghadapi tekanan dari berkurangnya permintaan,” ungkap Nofrizal yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Pekanbaru.
Sejauh ini, sambung Nofrizal, kegiatan pemerintah memiliki efek terhadap sektor swasta. Ketika pemerintah menyelenggarakan acara, pelaku usaha swasta cenderung ikut menggelar kegiatan yang turut menggerakkan bisnis hotel dan restoran. Di sisi lain, biaya operasional hotel tidak ikut turun ketika jumlah tamu berkurang. Pengeluaran untuk membayar karyawan, melakukan perawatan gedung, dan merenovasi fasilitas tetap berjalan. Kenaikan upah tenaga kerja juga menambah beban yang harus ditanggung pengelola.
“Beban hotel itu besar. Ada beban karyawan, beban maintenance, dan beban renovasi. Gedung itu tidak mungkin tidak direnovasi. Dipakai atau tidak, gedung tetap dimakan waktu dan cuaca,” ujar Nofrizal.
Dengan kondisi ini, pihak hotel menghadapi kesulitan menaikkan harga kamar, sementara biaya operasional terus meningkat. Kondisi tersebut membuat ruang gerak pengelola untuk menjaga keberlangsungan usaha semakin terbatas. Maka strategi masing-masing hotel hanya bisa untuk bertahan. Namun, ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak menjadikan perang harga sebagai satu-satunya jalan keluar. Menurunkan tarif secara berlebihan berisiko menekan kemampuan hotel mempertahankan kualitas layanan. Jika pendapatan terus menyusut, pengelola akan semakin sulit membiayai pemeliharaan fasilitas dan peningkatan mutu pelayanan.
“Bertahan hidup itu tidak mesti harus banting harga. Kalau sudah banting harga, ekonomi tidak baik lagi. Kami khawatir kualitas hotel semakin menurun,” ujar Nofrizal
Menurut Nofrizal, keberlangsungan bisnis perhotelan tidak hanya bergantung pada jumlah tamu yang menginap. Kegiatan rapat, pertemuan, dan acara dari pemerintah maupun swasta juga berperan dalam menjaga pendapatan usaha.
Ia berharap aktivitas yang dapat menggerakkan sektor perhotelan kembali meningkat, sehingga pelaku usaha mampu menjaga operasional, mempertahankan kualitas layanan, dan menyediakan kesempatan kerja bagi tenaga profesional di bidang pariwisata.
