PEKANBARU (HALUANPOS.COM) – DR. Yusriadi. SE MM ketika di wawancara media tentang pandangan beliau terkait buku Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma yang di tulis Oleh Liza Fitriani. dan Alfarisi Thalib.
Buku Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma karya Liza Fitriani Nurkholis dan Alfarisi Thalib merupakan buku yang menarik untuk memahami perubahan besar dalam komunikasi politik di era digital.
“Buku ini hadir pada situasi ketika cara masyarakat memperoleh informasi politik telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. Politik tidak lagi hanya berlangsung melalui mimbar kampanye, baliho, televisi, surat kabar, pertemuan tatap muka, atau komunikasi langsung antara kandidat dengan masyarakat.” Kata Yusriadi, kamis (6/8/2026)
Lebih lanjut kata Pengamat Politik Riau ini, Kini, pertarungan politik juga berlangsung di ruang digital yang dikendalikan oleh teknologi, data, platform media sosial, dan algoritma.
Hal yang menarik dari buku ini adalah penggunaan istilah “kendali algoritma”. Istilah tersebut mengajak pembaca untuk melihat bahwa dalam komunikasi politik modern terdapat kekuatan baru yang sering kali tidak terlihat, tetapi mempunyai pengaruh sangat besar terhadap informasi yang diterima masyarakat. Algoritma bekerja di belakang layar.
Pengguna media sosial mungkin merasa bahwa mereka bebas memilih informasi yang ingin dilihat, padahal apa yang muncul di beranda mereka merupakan hasil dari proses penyaringan dan rekomendasi berdasarkan berbagai data perilaku digital.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan “apa yang benar?”, tetapi juga dengan pertanyaan “mengapa informasi ini yang saya lihat?”
“Di sinilah letak pentingnya buku ini.
Karena itu, saya melihat buku ini sangat cocok ditempatkan dalam kajian komunikasi politik, political marketing, perilaku pemilih, psikologi politik, literasi digital, dan strategi kampanye modern.” Tambahnya.
Dan jika diringkas dalam satu formula:
Algoritma mengatur distribusi perhatian; perhatian memengaruhi informasi yang diterima; informasi memengaruhi persepsi; persepsi membentuk sikap; dan sikap dapat memengaruhi perilaku politik.
Inilah alasan mengapa memahami algoritma pada akhirnya bukan hanya persoalan memahami teknologi, tetapi juga memahami manusia.
Secara keseluruhan, Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma dapat dibaca sebagai ajakan untuk memahami bahwa politik telah memasuki sebuah ruang baru: ruang politik digital yang dibentuk oleh interaksi antara manusia, data, platform, algoritma, dan emosi.
“Politik tidak lagi hanya mengenai siapa yang berbicara dan apa yang dikatakan, tetapi juga mengenai: siapa yang melihat, apa yang dilihat, berapa kali dilihat, bagaimana informasi tersebut diproses oleh pikiran, dan akhirnya bagaimana informasi tersebut mengubah perilaku.” Tutup Ustad Pekanbaru itu. (Rls)
