ROKAN HULU (HALUANPOS.COM)– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau melaksanakan program kerja unggulan berupa praktik pemijahan ikan lele bersama masyarakat pada Selasa (21/7/2026) di kediaman salah seorang pembudidaya ikan lele, Bapak Sutarno, Desa Pasir Baru, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dan praktik langsung kepada pembudidaya ikan agar mampu melakukan pemijahan ikan lele secara mandiri serta mengurangi ketergantungan terhadap pembelian bibit dari luar daerah.
Program tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa KUKERTA Universitas Riau yang terdiri atas Aulia Agustina, Dinda Afrina, Fania, Habibie Fabian Ramadhani Mandalim, Karin Aqila Zahra, Mutiara Azahra, Nadia Oktaramadhani, Puan Shabita, Putri Syahira, Muhammad Taqiyuddin Dzaky, dan Zahra, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Fitri Humairoh, S.E, M.Ak.
Ketua Kelompok KUKERTA Universitas Riau Desa Pasir Baru, Habibie Fabian Ramadhani Mandalim, menjelaskan bahwa program tersebut dipilih karena Desa Pasir Baru memiliki potensi yang mendukung untuk pengembangan budidaya ikan lele. Selain memiliki ketersediaan air dan lahan yang memadai, masyarakat juga telah mengenal usaha budidaya ikan. Namun, tingginya harga bibit serta keterbatasan ketersediaan bibit di pasaran masih menjadi kendala yang dihadapi para pembudidaya.
“Program ini kami pilih karena melihat potensi Desa Pasir Baru yang cukup besar untuk budidaya ikan lele. Selain memiliki sumber daya yang mendukung, masyarakat juga sudah cukup familiar dengan budidaya ikan. Kendala yang dihadapi saat ini adalah harga bibit yang relatif mahal dan terkadang sulit diperoleh. Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat dapat menghasilkan bibit sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar, bahkan dapat menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Habibie.
Pada kegiatan tersebut, tiga mahasiswa Program Studi Perikanan Universitas Riau, yakni
Karin Aqila Zahra, Aulia Agustina dan Putri Syahira, memandu pembudidaya dalam praktik pemijahan ikan lele menggunakan metode pemijahan alami. Kegiatan diawali dengan pemilihan induk jantan dan betina yang telah matang gonad, dilanjutkan dengan persiapan kolam melalui pembersihan dan penjemuran kolam, serta pemasangan kakaban berbahan ijuk sebagai media tempat menempelnya telur.
Karin menjelaskan bahwa metode pemijahan alami dipilih karena lebih mudah diterapkan oleh masyarakat. Meskipun membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga hari lebih lama dibandingkan metode pemijahan buatan, metode ini tidak memerlukan penggunaan hormon maupun biaya tambahan yang relatif besar. Selain itu, pemijahan buatan membutuhkan ketepatan waktu yang sangat presisi sehingga pelaksanaannya lebih sulit diterapkan oleh masyarakat.
“Kami memilih metode pemijahan alami karena lebih mudah diterapkan oleh masyarakat. Memang prosesnya membutuhkan waktu sekitar satu sampai tiga hari lebih lama dibandingkan pemijahan buatan, tetapi metode ini tidak memerlukan hormon maupun biaya yang besar. Selain itu, pemijahan buatan juga membutuhkan waktu yang sangat presisi sehingga lebih sulit diterapkan. Harapannya masyarakat dapat memahami tahapan pemijahan dan nantinya mampu menghasilkan bibit sendiri,” jelas Karin.
Salah seorang pembudidaya ikan lele di Desa Pasir Baru, Sutarno, mengaku selama ini memperoleh bibit dengan cara membeli dari pembibit. Menurutnya, harga bibit berkisar antara Rp200 hingga Rp400 per ekor dan terkadang sulit diperoleh. Ia mengikuti kegiatan tersebut agar dapat memproduksi bibit secara mandiri.
“Saya mengikuti kegiatan ini supaya ke depan bisa menghasilkan bibit sendiri dan tidak perlu membeli lagi. Dulu sekitar tahun 1987 saya pernah melakukan pemijahan, tetapi teknik yang dipelajari sekarang berbeda dan lebih mudah dipahami. Saya senang bisa mendapatkan ilmu baru dan berharap nantinya berhasil mempraktikkannya sendiri,” ungkap Sutarno.
Kepala Desa Pasir Baru, Agus Sugeng Riyadi, mengapresiasi pelaksanaan program praktik pemijahan ikan lele yang diinisiasi mahasiswa KUKERTA Universitas Riau. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat karena membantu menjawab permasalahan ketersediaan bibit ikan lele yang selama ini menjadi salah satu kendala bagi pembudidaya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KUKERTA Universitas Riau yang telah memberikan edukasi dan praktik pemijahan ikan lele kepada masyarakat. Selama ini salah satu kendala yang kami hadapi adalah ketersediaan bibit, sementara permintaan ikan lele terus meningkat dan harga jualnya juga mengalami kenaikan. Kami berharap ilmu yang diberikan dapat diterapkan oleh masyarakat sehingga semakin banyak warga yang mampu menghasilkan bibit sendiri dan mengembangkan usaha budidaya ikan lele,” ujar Agus Sugeng Riyadi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KUKERTA Universitas Riau berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Pasir Baru secara berkelanjutan. Dengan kemampuan melakukan pemijahan secara mandiri, masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bibit ikan lele sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi melalui pengembangan usaha budidaya ikan lele. (Rilis)
