Tim Peneliti Universitas Riau Berhasil Merancang Alat Mendeteksi Kadar Gula Darah Tanpa Rasa Sakit

0
625
Pengujian sensor dilakukan pada seseorang yang sudah terdiagnosa diabetes.

 

PEKANBARU (HALUANPOS.COM)- Diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula darah, dan banyak orang yang mengidapnya. Pada tahun 2019, sekitar 9,3% (463 juta) penduduk diperkirakan menderita diabetes; pada tahun 2030, jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 10,2% (578 juta). Sedangkan untuk diabetes kronis ditandai dengan penumpukan glukosa dalam tubuh yang tidak diasimilasi sehingga mengakibatkan disfungsi organ. Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sekitar 537 juta orang akan menderita diabetes pada tahun 2021. Prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia mencapai jumlah 8.426.000 yang diproyeksikan mencapai 21.257.000 pada tahun 2030.

Hal ini juga dipengaruhi oleh pilihan gaya hidup yang tidak sehat, seperti tidur setelah makan atau mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula yang sangat tinggi. Saat gula darah puasa, kadar gula darah yang sehat atau normal turun antara 70 dan 100 mg/dl. Baik gula darah rendah (hipoglikemia) maupun gula darah tinggi (hiperglikemia) sangat merugikan tubuh. Hipoglikemia, atau gula darah rendah, disebabkan oleh lemahnya kekuatan fisik, bahkan sampai tidak sadarkan diri, sedangkan hiperglikemia, atau gula darah berlebihan, juga dapat mengakibatkan keadaan darurat atau komplikasi terkait diabetes. Pemeriksaan kadar gula darah yang umum dilakukan ialah menggunakan teknik invansive atau dengan cara melukai jari pasien dan darah dari pasien di letakkan ke strip untuk melihat kadar gula darahnya.

MENARIK DIBACA:  Penerapan Etika Bisnis di UMKM Frozen, Melalui Manfaat Comunication Media Sosial ig.@kue_anmel

Berdasarkan data berikut mengartikan bahwa, masyarakat membutuhkan kapasitas kesehatan yang memadai. Penderita diabetes miletus diharus kan untuk memantau kadar glukosa dalam darah agar tetap terjaga normal serta pasien glukosa yang takut akan melukai jari teratasi. Sehingga tim peneliti pun melakukan kajian untuk mengatasi hal tersebut. Maka perlu dirancang sebuah alat yang mampu mendeteksi kadar gula dalam darah pasien tanpa melukai tubuh pasien yaitu dengan metode non-invasive dan pastinya tidak akan sakit.

Karena hal ini, Assoc. Prof. Dr. Yusnita Rahayu, S.T., M.Eng. beserta tim dosen dan mahasiswa teknik elektro mengusul rancangan sebuah alat monitoring kadar gula darah berbasis sensor antena.
Beragam keahlian bahu membahu dalam proses penelitian ini. Teknik antenna dan propagasi dibutuhkan dalam perakitan antenna sensor, pada penelitian ini juga membutuhkan teknik elektronika dalam perancangan casing guna mempermudah pemakaian alat.

Semua ilmu teknik ini terdapat pada Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau. Oleh karena itu, hal ini menjadi salah satu penggemblang untuk memajukan Teknik Elektro Universitas Riau dan bermanfaat untuk kesehatan masyarakat. Kerja tim ini terbentuk melalui serangkaian diskusi intensif dengan pembagian tugas masing- masing.

Mahasiswa teknik elektro bersama dosen pembimbing mengkaji kelayakan antena sebagai sendor untuk mendeteksi kadar gula darah yang hasilnya sama akurasinya dengan alat yang sudah banyak terjual di pasaran. Sebagai inisiator dari pihak kampus, Dr. Yusnita sebagai ketua dalam tim.

MENARIK DIBACA:  PENTINGNYA ETIKA & KODE ETIK PADA PROFESI SEORANG GURU

Tahap penelitian Pengembagan sensor ini berbasis sampel jari dan air liur dan terbagi dalam 3 tahap. Tahap satu ialah sensor yang berbentuk silinder yang ukurannya sama dengan jari telunjuk manusia. Sehingga diharapkan sensor ini dapat disarungkan dengan mudah ke jari telunjuk pasien. Tahap kedua yaitu sensor berbasis sampel air liur. Sampel air liur diambil dan diteteskan diaatas sensor untuk melihat kadar kandungan gula dalam cairan tersebut yang terkait dengan diabetes. Lalu pada penelitian tahap ke tiga juga menggunakan sampel jari, namun hanya menempelkan salah satu jari pada permukaan sensor untuk membaca kadar gula darah seseorang.

Penelitian ini didanai oleh Kemendikbud Ristek Dikti melalui skema penelitian dasar kompetitive nasional selama 2 tahun. Baberapa artikel ilmiah seperti jurnal bereputasi, prosiding terindeks scopus, buku dan hak cipta telah dihasilkan.

Cara kerja sensor dari tiap tahap penelitian
Penelitian ini melibatkan kurang lebih sekitar 20 orang sukarelawan pada tiap tahap penelitian. Pada tahap 1 (pertama) sensor di cetak dengan bahan yang lentur dan berbentuk silinder yang memiliki ukuran sebesar jari telunjuk seseorang. Sensor tersebut disarungkan kedalam jari telunjuk kemudian hasil yang didapat berupa pergeseran frekuensi yang akan terbaca pada instrumen ukur Vector Network Analyzer (VNA). Kemudian hasil bacaan ini akan dikonversikan kedalam nilai kadar gula darah yang ekuivalen.

MENARIK DIBACA:  Manfaat Air Nabeez Bagi Kesehatan

Sedangkan pada tahap 2 (ke-dua) memiliki prinsip menggunakan sampel air liur, dimana metode ini dilakukan dengan cara meneteskan air liur pasien ke atas sensor menggunakan sedotan suntik. Bacaan hasil pengujiannya menggunakan teknik yang sama dengan di atas.

Selanjutnya ialah tahap 3 (ke- tiga) menggunakan sentuhan jari pada permukaan sensor untuk membaca kadar gula darah seseorang.
Pengujian Tahap 1

Sensor silinder
gambar di atas merupakan bentuk dari sensor yang di usulkan pada tahap penelitian pertama.

Pengujian sensor dilakukan pada seseorang yang sudah terdiagnosa diabetes. Sebelumnya setiap pasien akan diuji kadar gula darahnya menggunakan alat ukur gula darah yang umum kemudian menggunakan sensor yang diusulkan untuk menvalidasi keakuratan sensor yang diuji.
Pengujian Tahap 2

Sensor circular
Gambar 2 merupakan bentuk dari sensor yang di usulkan pada tahap penelitian kedua.
Pengujian sensor tahap kedua ini terlihat seseorang meneteskan air liurnya ke atas sensor menggunakan sedotan suntikan.

Pengujian sensor tahap kedua ini terlihat seseorang meneteskan air liurnya ke atas sensor menggunakan sedotan suntikan.
Pengujian Tahap 3

Sensor Triple Circular
gambar di atas merupakan sensor yang dihasilkan pada tahap penelitian ke-tiga
Prinsip pengujian sensor ini seperti yang diuraikan diatas dengan menempelkan jari

Prinsip pengujian sensor ini seperti yang diuraikan diatas dengan menempelkan jari. Dari hasil pengujian beberapa volunteer terlihat tidak ada keluhan sakit yang terjadi bahkan mereka merasa sangat terbantu bila sensor ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan tersedia di pasaran. Volunteer juga mengaku lebih nyaman melakukan pengecekan menggunakan sensor di bandingkan dengan alat pengecekkan umum.

Kedepannya diharapkan agar alat monitoring kadar gula darah tanpa melukai ini dapat di pasarkan dan menjadi suatu produk yang berguna bagi Masyarakat kedepannya. (rilis