Cerita dibalik Pencarian Bocah Hilang di Objek Wisata Pulau Cinta  part 2 

0
174

Penulis: Masril Tanjung, SE.

( Al-Hikmah Therapy Center Pekanbaru ).

Proses pencarian team pertama dimulai, kami mengamati sekitar perahu yang cukup lumayan besar sehingga mampu memuat 7 orang relawan, dan masing sepertinya sudah siap pada posisi, pak Eri diatas dek dengan dua senter, dibawah juga dengan dua senter dan satu orang sebagai juru mudi, sedang kami kebahagiaan tugas lain, sebagai juru timba air yang masuk ke perahu, sedangkan ketua DPC PBB setempat kami panggil dengan sebutan opung, sepertinya dia lebih condong berpegangan erat pada tonggak perahu sambil berdoa tampa henti, menurut perkiraan kami opung tak bisa berenang dan ketakutan hebat.

Setelah satukan menyelusuri sungai, dengan mencari setiap titik apa saja di amati dan disisir dan disorot dengan senter, setelah dekat jembatan Taratak buluh kami dapat informasi dari pak Barmen Sihombing bahwa teamnya yang kedua sudah menemukan satu jenazah dengan ciri ciri perempuan, jelas sudah Gabriel Aritonang sudah ditemukan.

Alhamdulillah sesuai dengan hasil analisa Awal, dan kami yang tadi sudah lemas mulai bersemangat lagi, termasuk opung.

Opung minta di telpon keluarganya agar dia tenang, hal itu tak bisa dilakukan karena tidak ada sinyal dan opung pinjaman hp kami tak bisa karena hp langsung mati dan tak bisa difungsikan, wal hasil opung mulai lagi memeluk tiang perahu dengan erat.

Pencarian kami lanjutkan hingga melewati beberapa ratus meter jembatan Taratak Buluh, walau sudah melewati jembatan cukup jauh tanda tanda Kevin belum juga tampak.

MENARIK DIBACA:  Mendorong Sagu Meranti Sebagai Komoditas Pangan Nasional

Selanjutnya perahu putar haluan untuk berbalik arah kembali, terjadi sesuatu terhadap perahu kami karena arus air deras perahu melambat, juru mudi mulai tambah kecepatan dan berusaha merapatkan perahunya ke tiang jembatan sambil mengamati setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi, kami hanya mengamati opung yang semakin kuat berpegangan pada tiang perahu dan kami berusaha terus menerus menimba air yang masuk perahunya.

Perkiraan kami telah melewati jembatan kembali sekitar 500 meter sekitar puing tumpukan kayu yang banyak disebelah kanan, Perahu kami mulai melambat lagi karena seolah ada gelombang besar muncul dari tengah sungai, dan perahu seperti putar haluan Sendiri tampa diarahkan oleh juru mudi dan seperti senter pak Eri mengarah pada sesuatu benda hanyut semua kami serentak tertuju pada benda yang dimaksud, suasana tetap hening tegang dan mencekam, pada saat itulah setelah bungkusan yang dimaksud merapat keperahu dan dengan refleks benda itu kami tangkap dengan tangan kiri Karena tangan kanan masih menegang gayung penimba air suasana masih hening dan mencekam Karena kami tahu bahwa benda yang mengapung tadi adalah mayat dari Kevin Aritonang.

Setelah kami yakin itu adalah mayat yang kami cari pegang kami semakin kuat pada kerah bajunya, semua persendian kami melemas, dan kami minta opung agar opung membantu menegangkan tangan kanan kami agar mayat yang sudah dapat tidak lepas lagi.

Karena badan kami rasa tanpa ada persendian sehingga pegangan pada kerah baju Kevin serasa lepas’, lalu pak Eri mengambil tali dan mengikat baju dari Kevin agar tidak lepas.

MENARIK DIBACA:  Mencari Solusi Menghadapi Abrasi di Pulau Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau

Setelah itu baru pak Eri menghubungi pak Barmen Sihombing yang pada saat itu ada di lokasi kejadian awal.

Kemudian kita sepakati agar team yang bisa mengambil mayat Kevin di dermaga jembatan Taratak Buluh dekat pasar kaget.

Akhirnya kami pandu mayat sambil tetap dipegang erat dan di giring ke lokasi yang disepakati.

Perkiraan 30 menit dengan bersalaman team Basarnas, team yang lain dan team PBB sudah menunggu ditempat yang disepakati.

Pada saat itulah opung mulai tersadar dan memeluk kami dengan erat sambil mengis dan bersyukur, juga dengan anggota dan pengurus PBB yang lain termasuk ibu pendeta yang bersyukur tak hentinya dan memeluk kami dengan eratnya sambil menangis dan bersyukur.

Kemudian team Basarnas sudah sampai ke lokasi dari dalam air dengan speedboat juga dari daratan dengan mobil patroli dan dengan kantong jenazah.

Setelah Semua team datang jenazah kami serah terimakan bahwa tugas kami sudah selesai sesuai dengan mandat yang diberikan.

Dengan Posisi masih lemas kami berpamitan dengan team pak Eri dan pemuda setempat, bahwa tugas kita sesuai dengan *Amanah dan Mandat*

Amanah dari Allah, mandat dari MahklukNya. Selanjutnya kami pak Barmen Sihombing, Arun dan Moses Sihombing berpamitan dengan team pak Eri Insya Allah diwaktu yang kita dipertemukan Allah lagi dalam Amanah dan Mandat yang lain.

Selanjutnya kami menuju Rumah Sakit Bayangkara dijalan Kartini PEKANBARU, mengikuti rombongan yang lain untuk proses lebih lanjut terhadap kedua mayat Kevin dan Gebriel Aritonang.

MENARIK DIBACA:  Tempuh Jarak Jauh Buat Seru-Seruan Kuat, Melangkah Shalat Kenapa Letoy

Sekitar jam 03.00, proses mayat dirumah sakit Bhayangkara, sambil menunggu proses selesai kami diajak makan sahur oleh pak Barmen Sihombing dan ketua DPD PBB, Cabang, dengan panglima Polim dan beberapa anggota PBB lain’ kita makan bersama.

Alhamdulillah selesai makan sahur pak Barmen Sihombing mengajak kami untuk ikut rombongan lain, mobil jenazah dibawa kerumah duka di Rumbai.

Sampai dirumah duka kami tak bisa ceritakan bagaimana mana Berdukanya keluarga pak Aritonang kehilangan anaknya sepasang dalam waktu yang bersamaan.

Selesai sholat subuh dari rumah duka, kami berpamitan dengan dengan keluarga pak Aritonang, ibu pendeta dan keluarga besar PBB yang masih setia mengikuti semua proses pencarian dari awal hingga akhir.

Setelah selesai subuh kami kembali pulang ke Villa Kartama kembali dan sepanjang jalan Menuju villa kartama, kami bercerita tentang sesuatu yang tidak mungkin dan tidak kita percayai bisa terjadi ternyata bagi Allah, Tuhan Yang Maha Berkuasa Ternyata Mudah.

Ini juga bagi kami sebuah tangan dan isyratNya, peristiwa ini terjadi di bulan Suci Ramadhan, dan 7 hari lagi memasuki Hari Raya idul Fitri, artinya kembali kefitrah Awal kejadian Manusia. Dan momentumnya ada pada PBB dan Objek Wisata Pulau Cinta Taratak Buluh.

Demikian,
Kepada Keluarga Besar Aritonang kami turut berdukacita atas kejadian ini, tetap bersabar dan iklas menerima semua ini…… Amin.

Wassalam.
Hormat kami,

An, Kelurga Besar,
Al-Hikmah Therapy Center Pekanbaru

1. Masril Tanjung. SE.
2. Barmen Sihombing.