Generasi Islam Terbaik Pencetak Sejarah Gemilang Oleh: Rasymi Warraduhita

0
136

OPINI (HPC)-Akhir September lalu, Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluarkan surat bernomor: 420/1109/DISDIK yang berisikan instruksi membaca buku Muhammad Al Fatih 1453 yang ditulis oleh Felix Y Siauw. Surat yang ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung itu ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Muhammad Soleh.

Isinya adalah instruksi kepada seluruh siswa untuk membaca dan merangkum isi buku tersebut dengan gaya bahasa masing-masing. Hasilnya kemudian akan dikumpulkan oleh pihak sekolah, lalu pihak sekolah akan melaporkannya ke cabang Dinas Pendidikan Provinsi Babel dan seterusnya cabang dinas akan melaporkannya ke Dinas Pendidikan Pemprov Babel. Instruksi ini bertujuan meningkatkan kemampuan literasi siswa yang berkaitan dengan pendampingan kompetensi minimal 2021 sebagai pengganti ujian nasional.
Sontak, surat tersebut menjadi viral di jagad maya dan menimbulkan kontroversi. Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengkritik instruksi tersebut. Ia mempermasalahkannya, sebab buku itu ditulis oleh Felix Siauw yang disebutnya sebagai salah satu tokoh Hizbut Tahrir sehingga orang akan menduga buku itu adalah bagian dari propaganda terselubung pengusung ideologi transnasional.
PWNU Babel pun melayangkan protes dengan mengirimkan surat teguran ke Gubernur Provinsi Babel, Erzaldi Rosman Djohan. Ketua PWNU Babel, KH Jaafar Siddiq mengatakan bahwa instruksi itu memiliki agenda terselubung. Karena itulah, hanya dua hari kemudian, Jum’at 2 Oktober 2020 keluar surat bernomor: 420/1112.a/DISDIK yang berisi tentang pembatalan surat instruksi tersebut.
Alergi Sejarah Islam
Sungguh sangat disayangkan munculnya penolakan untuk mempelajari sejarah Islam, justru datangnya dari kaum Muslim sendiri bahkan organisasi Islam. Sikap seperti ini menunjukkan adanya gejala alergi pada sebagian kaum Muslim dan ajaran agamanya sendiri. Gejala alergi ini sudah beberapa kali tampak di negara ini.
Tentu kita masih ingat, sebelumnya muncul penolakan terhadap film dokumenter JKdN. Padahal film tersebut hanyalah pengungkapan fakta masa lalu alias sejarah bangsa ini. Semestinya kita turut berbangga karena pernah menjadi bagian dari sebuah negara adidaya pada masa itu, yakni Kekhilafahan Utsmani. Bahkan, faktor utama munculnya perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah Barat justru karena telah digerakkan oleh semangat jihad yang dikobarkan oleh para ulama seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar maupun Tuanku Imam Bondjol.
Tak berbeda dengan film JKdN, buku Muhammad Al-Fatih 1453 yang ditulis oleh Felix Siauw juga sebuah ulasan sejarah yang nyata. Sejarah tentang kegemilangan yang pernah dicapai oleh umat Islam di masa Kekhilafahan Muhammad Al-Fatih. Dunia bahkan mencatatnya sebagai salah satu peristiwa penaklukkan terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.
Pasalnya, Kota Konstantinopel, sebagai ibukota Romawi Timur pada masa itu terkenal akan kekuatan pertahanannya yang tak tertembus selama ratusan tahun. Bentengnya begitu kokoh dan berlapis-lapis, letaknya amat strategis di atas tujuh bukit serta diapit oleh lautan yang bergelombang tinggi dan semenanjung yang dirantai besi besar, membuat kota itu hampir mustahil untuk ditembus. Namun, Muhammad Al-Fatih yang bergelar Sultan Mehmed II itu ternyata mampu menaklukan Konstantinopel.
Keharusan Mempelajari Sejarah
Sesungguhnya, mempelajari sejarah adalah suatu keharusan. Allah SWT telah mengisyaratkan pentingnya belajar sejarah melalui firman-Nya dalam Surah Ar Rum ayat 42 yang artinya, “Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana (akibat) orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Begitu juga dalam Surah Al-A’raf ayat 176, Allah SWT berfirman, “Maka ceritakanlah wahai Nabi, kisah ini kepada kaummu agar mereka berpikir.”
Imam ats-Tsa’labi telah menjelaskan, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang sejarah atau kisah-kisah umat terdahulu itu berjumlah dua kali lipat ketimbang ayat-ayat yang membahas tentang hukum halal-haram. Hal itu menunjukkan keharusan mempelajari sejarah bagi umat Islam.
Sejarah adalah cermin kehidupan masa lalu, ia adalah pelajaran dan teladan bagi generasi berikutnya. Membaca dan mengkaji sejarah, terutama sebagai umat Islam akan menumbuhkan kesadaran, motivasi dan mentalitas yang unggul dalam diri kaum Muslim, juga senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengikuti jejak para shalihin seraya menjauhi jalan orang-orang yang durhaka.
Muhammad Soleh sendiri ketika dikonfirmasi telah mencabut instruksi tersebut, sempat menyatakan kekagumannya akan kisah Muhammad Al-Fatih yang sejak kecil sudah hafiz dan bagaimana perjuangannya merebut Konstantinopel.
Islam Melahirkan Generasi Unggul
Dengan mempelajari sejarah Muhammad Al-Fatih, kita akan mengetahui bahwa kemenangan itu bukanlah suatu hal yang mustahil meskipun juga bukan sesuatu hal yang mudah untuk dicapai. Dibutuhkan keimanan, kejeniusan serta kerja keras yang luar biasa, dan itulah yang dibangun oleh Muhammad Al-Fatih dalam dirinya.
Sejak dalam kandungan, Muhammad Al-Fatih telah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi penakluk Konstantinopel. Ia sendiri pun berupaya membentuk dirinya agar dapat menjadi panglima perang terbaik dengan pasukan terbaik sebagaimana Bisyarah Rasulullaah SAW dalam salah satu haditsnya.
Muhammad Al-Fatih tumbuh menjadi pemuda ahli ibadah dan ahli ilmu. Sejak ia baligh, tak pernah sekalipun ia meninggalkan shalat tahajud. Ia pun dikaruniai kecerdasan yang luar biasa, menguasai ilmu geografi, politik, sirah nabawiyah dan menguasai sembilan bahasa. Maka layak, di usia yang baru menginjak 21 tahun, ia mampu menaklukkan Konstantinopel.
Dari kisah Muhammad Al-Fatih kita bisa pula melihat bahwa generasi terbaik hanya akan lahir dalam sistem terbaik pula, yakni Islam. Generasi unggulan seperti Muhammad Al-Fatih tidak akan mungkin lahir dari bangsa yang kaum mudanya mengidolakan boyband dan artis K-Pop yang nyata-nyata mempropagandakan sekularisme dan liberalisme.
Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk lahir dari sistem kekhilafahan yang menerapkan Islam sebagai aturan hidupnya, menjadikan Rasulullah SAW sebagai idolanya. Kelak dari sistem ini pulalah, panglima perang terbaik lainnya yang telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW akan kembali lahir. Yakni, panglima perang yang kelak akan menaklukkan Kota Roma. Wallaahu’alam bi shawaab. []
DATA DIRI
Nama: Rasymi Warraduhita
Email: rasymiw@gmail.com
No HP: 08158049338

MENARIK DIBACA:  Realitas Korelasi Hukum dan Politik dalam Lingkaran Kehidupan Sosial