Karya Seni dari Dumai Untuk Indonesia

0
123

Oleh: Zulkarnaen, M.Sn *).

OPINI (HPC)-Berkarya seni itu bukan sekedar memainkan alat musik, mencoret, bernyanyi, menari. Menjadi konseptor dalam mempertemukan para pejabat, pakar seni, penggiat seni, guru seni budaya, siswa berprestasi seni se-Indonesia dan peneliti seni dalam satu tempat meskipun dengan media yang disebut dengan virtual/online. Pendapat penulis ini juga karya seni, karena semuanya melalui riset, pendekatan dan perjuangan, hingga mereka dapat bersuara dalam suara seni mereka.

Berawal dibentuknya Kepengurusan Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai 2020, penulis sebagai guru seni budaya dari SMPN Binsus Dumai, dan dilibatkan dalamnya pada bulan Januari 2020. Penulis dalam mengajar selalu melibatkan siswa dengan seniman, inilah kedekatan penulis dengan seniman, dan dilibatkan dalam kepengurusan Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai 2020, namun karena Covid-19, Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai tentu tidak ada program, karena belum ada dana untuk berkegiatan, sementara dalam grup beredar informasi yang menurut penulis tidak perlu ditanggapi. Namun penulis di japri, isinya begini:
“Anda mau aktif bergabung di Dewan Kesenian atau tidak? Tolong pikirkan, kami beri waktu seminggu.”

Pertanyaan itu muncul saat ketua melihat penulis tidak komen dalam grup, sebulan lalu. Akhirnya penulis jawab dengan membuat program sharing session/workshop seni budaya dengan tiga model, tiga hari, model pertama tanggal 15 Juni 2020, sharing session seni Dewan Kesenian se-Indonesia, tanggal 16 Juni 2020, sharing session bersama siswa berprestasi seni se-Indonesia, tanggal 17 Juni 2020, sharing session musik religi pematerinya Prof. Anne Katharine Rasmussen, Ph.D dari Virginia, USA.

MENARIK DIBACA:  5 Amalan Kesukaan Rasulullah SAW Di Bulan Ramadhan

Syukur, kegiatan yang dibuka oleh Dirjen Kebudayaan RI, P4TK Seni Budaya di hari pertama, sukses. Para Dewan Kesenian se-Indonesia berterimakasih inilah pertama kali Dewan Kesenian pertama kali dipertemukan, demikian pula dari Dirjen Budaya yang diwakili Direktur PPK, pak Restu, berharap adanya sinergi antara Dewan Kesenian se-Indonesia, dan menerangkan tentang seniman masuk sekolah.

Ibu Sarijilah Kepala Pusat Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni Budaya yang tinggal di Yogyakarta, merasa berterimakasih, karena sebagai perwakilan guru seni budaya se-Indonesia dapat berinteraksi bersama seniman dan Dewan Kesenian beserta Dirjen Budaya. Harapannya Guru Seni Budaya dan Dewan Kesenian Bisa bersinergi dalam berkarya seni terutama ilmu seni dapat ditularkan ke siswa.

MENARIK DIBACA:  Opini Terkait Virus Covid-19 (Corona) Bergantian Mengeluarkan Maklumat

Lain lagi dengan seniman senior Irawan Karseno, yang ngaku sebagai pensiun Dewan Kesenian Jakarta, ceritanya, sudah lama menjadi koordinator Dewan Kesenian daerah, namun inilah ide cemerlang mempertemukan Dewan Kesenian se-Indonesia. Irawan berharap Dirjen Budaya menjadi penyambung lidah dari seniman dan Dewan Kesenian se-Indonesia ke Pemerintah, poin kecuali diberikan dana kepada Dewan Kesenian, perlu diapresiasi denga even-even budaya.

Menariknya, kegiatan atas nama Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai, adalah cerita seniman, namanya Elson dari Sumba, bahwa tak ada perhatian dari pihak lain, dia bersama sanggarnya berkesenian sendiri tak seperti daerah lain yang memiliki Dewan Kesenian, meskipun diberbagai daerah kejadian serupa misalnya “dibekukan” sementara oleh kepala daerahnya, sebut saja misal DKI, SUMBAR, SUMUT. Kembali kepada Elson, dia berkesenian dari kampung ke kampung, modal sendiri, demikian upayanya melestarikan seni daerahnya. Ini gila! Berkesenian tanpa dukungan pihak lain.

Pada hari kedua kegiatan Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai adalah mempertemukan siswa berprestasi seni se-Indonesia dengan Pusat Prestasi Nasional, kami mempertemukan mereka dan berdiskusi seni hingga akhirnya kami memberikan PR kepada Pusat Prestasi Nasional, adek-adek siswa kita ini dibawa kemana, mereka berprestasi seni ditingkat nasional bahkan ditingkat dunia, kedepan bagaimana, apakah diberi beasiswa untuk melanjutkan kuliah seni misalnya, hingga ke jenjang tertinggi S3 seni. Pak Asep dari PUSPRESNAS, akan melanjutkan “PR” ini ke tingkat yang lebih tinggi. Demikian pak Asep, hening sebentar, dan itu jawabannya.

MENARIK DIBACA:  Pemuda dan Dua Gerakan Pembebasan

Pada hari ketiga, kami mempertemukan Prof. Anne Rasmussen, Ph.D dari USA dengan penggiat musik kasidah Rebana se-Indonesia, Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI), peneliti seni/dari kampus seni se-Indonesia, sharing session tentang perjalanan musik religi khususnya musik kasidah rebana. Prof. Anne Rasmussen, bercerita penelitian beliau tentang musik religi di Indonesia selama 20 tahun, dan beberapa penelitian dari Arab yang beliau lakukan selama ini, yang menarik bagi penulis adalah begitu hebatnya kesenian yang ada di Indonesia hingga pakar seni dari luar peduli dan meneliti buah karya seni Indonesia, banggalah menjadi Indonesia! Itu saja komentar penulis.

*). Penulis adalah Anggota Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai, Guru Seni Budaya SMPN Binsus Kota Dumai, penulis buku, dan penulis diberbagai media online nasional.