POTENSI INDONESIA MENJADI AKTOR UTAMA EKOMONI DIGITAL ASEAN

0
34

Oleh : Irma Lia Funna

OPINI (HPC) – Dewasa ini, teknologi bukan lagi hal yang langka bagi masyarakat diseluruh dunia dan tidak terkecuali Indonesia. Kemajuan teknologi yang telah kita rasakan di era sekarang ini telah diakui dan dirasakan secara langsung manfaatnya bagi umat manusia. Salah satu dampak pada perkembangan media komunikasi dan informasi dapat dirasakan panda bidang ekonomi. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memaparkan hasil survei bertajuk Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017. Hasil survei menyebutkan, penetrasi pengguna internet di Indonesia meningkat menjadi 143,26 juta jiwa atau setara 54,7% dari total populasi negara ini. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan perkembangan zaman.

Dalam kehidupan ini, kemajuan teknologi bukanlah satu hal yang dapat dihindari karena kemajuan teknologi berbanding lurus dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam bidang teknologi sendiri, masyarakat sudah merasakan banyak manfaat nyata yang dihasilkan oleh inovasi-inovasi dari bidang teknologi. Salah satu manfaat yang paling besar adalah kemudahan dalam dunia ekonomi dan bisnis. Salah satu bentuk kemudahan dan manfaat teknologi dalam dunia ekonomi adalah munculnya istilah yang sering kita dengar dengan ekonomi digital.

Digital ekonomi menjadi simbol perkembangan dan pertumbuhan ekonomi pada masa sekarang dan yang akan datang. Terbukti dengan semakin lajunya perkembangan bisnis atau transaksi perdagangan yang menggunakan internet sebagai media dalam berkomunikasi, kolaborasi dan bekerjasama antarperusahaan dan individu. Tapscott (1998) adalah yang pertamakali memperkenalkan ekonomi digital yaitu sebuah sosiopolitik dan sistem ekonomi yang mempunyai karakteristik sebagai sebuah ruang intelijen, meliputi informasi, berbagi akses instrumen informasi, kapasitas informasi dan pemrosesan informasi. Komponen ekonomi digital yang berhasil diidentifikasi pertama kalinya yaitu industri TIK, e-commerce, distribusi digital barang dan jasa. Selain itu, PC Magazine mengatakan bahwa ekonomi digital adalah penerapan TIK yang lebih ditonjolkan panda bidang ekonomi.

Dengan lajunya perkembangan bisnis dalam dunia ekonomi digital maka muncullah berbagai macam bentuk persaingan di dunia bisnis dan perdagangan. Untuk tetap bertahan di era ekonomi digital ini, maka pelaku ekonomi perlu memahami karakteristiknya. Ada 12 karakteristik penting dari ekonomi digital yang harus diketahui dan dipahami menurut Don Scott yaitu knowledge, digitazion, virtualization, molecularization, internetworking, disintermediation, convergence, innovation, immediacy, globalization dan discordance.
Melihat berbagai potensi dan pertumbuhan bidang ekonomi, industri dan pasar online yang meninngkat pesat. Sudah sewajarnya bila Bapak Joko Widodo selaku presiden republik ini mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Beliau mengutarakan ambisinya tersebut dalam lawatannya ke Sillicon Valley pada Februari 2016. Beliau juga mengatakan kepada CEO Plug and Play, Saeed Amidi, bahwa indonesia sedang bekerja untuk mewujudkan impian tersebut dan berharap Plug and Play dapat bekerja sama dalam upaya Indonesia mencapai visi ekonomi digital terbesr di Asia Tenggara yang mencapai 130 miliar dollar AS pada 2020.
Harapan Bapak Jokowi ini didukung dengan hasil riset Google bersama Temasek yang dipublikasikan pada Agustus 2016, mengatakan bahwa rata-rata tiap tahun pengguna internet di Indonesia bertambah 19 persen. Hasil studi itu mencakup cerminan bahwa pada 2020, penggua internet Indonesia bisa memuncak hingga 215 juta, dari sebelumnya hanya 143,26 juta pada tahun 2017. APJII juga menjelaskan komposisi penyebaran pengguna internet di Indoesia, Pulau Jawa masih mendoinasi dengan persentase 58,08%, Sumatea 19,09%, Kalimatan 7,97%, Sulawesi 6,73%, Bali-Nusa 5,63%, dan Maluku-Papua 2,49%.

Penetrasi pengguna internet di Indonesia ini sejalan dengan tingkat pengguna e-Commerce di Indonesia. Hasil riset perusahaan teknologi pemasaran asal Perancis, Criteo, diketahui bahwa sebesar 95,8% konsumen di Indonesi banyak yang mengggunakan aplikasi e-Commerce untuk berbelanja. General Manager South East Asia, Hongkong and Taiwan Criteo, Alban Villani mengatakan berdasaran hal tersebut Indonesia bisa menjadi pemimpinnya dan bahkan bisa mengalahkan China. Dia juga mengatakan, sebanyak 72,2% pengguna e-Commerce di Indonesia memiliki dua hingga lima aplikasi yang terinstal di smartphone-nya.

Fakta tersebut sangat mendukung Indonesia bisa menjadi macan ekonomi digital di Asia Tenggara yang sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Badan Pusat Satistk (BPS) mecatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 sebesar 5,27%. Dimana angka tersebut lebih tinggi daripada kuartal I 2018 sebesar 5,06%. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 juga lebih tinggi daripada kuartal II tahun 2017 sebesar 5,01%.

Selain menggenjot angka pertubuhan ekonomi nasional, ekonomi digital juga bisa mendongkrak angka investasi di Tanah Air. Perkembangan ekonomi digital memberikan dampak positif bagi kemajuan pasar modal Indonesia. Direktur Utama BEI Inarno Djayadi, mengatakan bahwa, kemunculan bisnis berbasis elektronik dan aplikasi e-Commerce serta pekembangan layanan finansial teknologi, membuat akses masyarakat berinvestasi semakin mudah dan cepat. Dipaparkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah investor perorangan (single investor identification/SID) di pasar modal Indonesia mencapai 1,36 juta hingga akhir Juli 2018. Jumlah ini meningkat 33,59% dari jumlah SID akhir Juli tahun lalu sebesar 1,02 juta investor.

Dari pembahasan di atas, mulai dari perkembangan teknologi, penetrasi pengguna internet di Indonesia yang semakin signifikan, pertumbuhan ekonomi yang baik dan juga ditambah dengan lonjakan angka ivestor di pasar modal indonesia yang semua itu merupakan hasil dari peran ekonomi digtal maka sudah sangat jelas Indoesia sangat berpotensi menjadi aktor utama dalam ekonomi digital terutama di wilayah Asia Tenggara.

Indonesia sebagai negara yang muncul sebagai kekuatan baru dalam bidang teknologi, dapat menciptakan potensi pasar yang besar untuk bidang perdagangan berbasis teknologi (e-Commerce), investasi dan industri lainnya. Untuk mewujudkan ambisi Indonesia menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, pemerintah harus mendukung infrastruktur, regulasi dan pendidikan terkait ekonomi digital untuk memastikan bahwa kita sebagai bangsa telah siap untuk masuk ke dalam tren teknologi digital secara global. Jika pemerintah sudah fokus terhadap hal-hal pendukung yang telah disebutkan, maka tujuan Indonesia menjadi aktor utama ekonomi digital di asean dapat terwujud.

Oleh : Irma Lia Funna
Mahasiswi Akuntansi S1 / UIN Suska Riau