ini Sosok DR. H. Firdaus. ST. MT Sang Visioner

0
573

PROFIL TOKOH (HPC) –DR. H. Firdaus, ST. MT dilahirkan di Muaro Uway, Seberang Pasar Bangkinang, Kabupaten Kampar bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, 02 Mei 1960. Beliau dilahirkan dari pasangan Muhammad Datuk Bagindo Pado dan Hj. Rufiah, salah seorang tokoh adat dan tokoh masyarakat yang cukup disegani di Muaro Uway.
Selesai tamat dari bangku sekolah menegah pertama (SMP), beliau selalu mendapat arahan serta bimbingan dari orang tuanya, agar menjadi orang pintar dan taat beragama.
Selanjutnya, dengan nasihat tersebut, beliau disarankan untuk melajutkan pendidikan di bangku sekolah kejuruan yakni STM. Saran ini bertujuan agar setelah tamat nanti, Firdaus dapat bekerja dan membantu keluarga. ”Ya, mudah-mudahan bisa menjadi Andemer (bahasa Belanda, red) atau pemborong,” meniru ucapan sang ayah tercinta.
Namun sang ibu tercinta memintanya untuk senantisa jangan lupa selalu beribadah dengan bersungguh-sungguh. Hal ini juga yang dilakukan beliau sejak kecil. ”Bahkan saya sempat menjadi guru mengaji dan Utadz,” kata beliau.
Perjalanan Hidup DR. H. Firdaus, MT
DR. H. Firdaus, MT mengawali kariernya bekerja di Dinas Pekerjaan Umum sebagai Tenaga Honor dengan Pendidikan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan Bangunan pada tahun 1981.
Melihat pribadi beliau yang kalem, ketekunan dalam bertindak, serta kesungguhan dalam prinsipnya, pada tahun yang sama (1981), beliau mengikuti program Peningkatan SDM untuk lulusan STM Terbaik di Sub Binamarga PU Provinsi Riau. Hal ini membuahkan hasil yang cukup bergemilang buat diri beliau, dan diangkatlah menjadi seorang yang dipercaya sebagai pegawai harian proyek, hingga mengetahui seluk-beluk master plan pembangunan, kekuatan daya bangunan serta kualitas dan kuantitas bangunan. Kecerdasan dan kesungguhan itu, membawa beliau menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) setelah empat tahun bekerja sebagai harian proyek.
Firdaus terus di ilhami optimisme mengejar asa, tes belajar di Politeknik Institut Teknologi Bogor dengan Jurusan Jalan Raya pun ditekuni dengan baik. Pada 1989 beliau diwisuda dan kembali bertugas di Dinas Pekerjaan Umum Riau. Setahun berselang, ditugaskan ke Cabang Dinas PU Provinsi Batam sebagai Kepala Seksi (Kasi) Binamarga. Dari Kasi selanjutnya dipromosikan menjadi Kepala Kacabdin PU Kota Batam merangkap Dinas PU Batam.
Di tengah kesibukkan dalam menjalankan tugas tersebut, lelaki yang akrab disapa Fir ini, berhasil menyelesaikan S1 di Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR) pada 1994. Empat tahun kemudian, tepatnya Februari 1998 Firdaus ST, diterima mengikuti program pascasarjana di Universitas Gajah Mada jurusan Teknik Sipil.
Setelah menyelesaikan program S2-nya di UGM, ia pun dipercaya menjadi pimpinan proyek yang difokuskan di Kota Pekanbaru. Dan pada tahun 2000 ia ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kasi Perencanaan Subdin Bina Marga. Berkat kesungguhan dan ketekunannya itu, tahun 2004 Firdaus ditunjuk sebagai Plt. Kasubdin Prasaran Jalan, hingga resmi menjadi Kasubdin Prasaran Jalan tahun 2005, dan Dinas PU pun beralih nama dengan nama Kimpraswil Riau.
Meniti karier dari jenjang bawah dengan kegigihan serta kesungguhan dalam memegang amanah, kokoh dalam pendirian, April 2007 Firdaus,MT dipromosikan sebagai Wakil Kepala Dinas Kimraswil Riau. Karena saat itu Kadis Kimpraswilnya tidak ada, maka Wakadis secara otomatis dapat menjadi Plt Kepala Dinas. Pada April 2008, barulah beliau definitif menjadi Kepala Dinas Kimpraswil Provinsi Riau. Sebelum itu, beliau juga pernah menjabat Kepala Bapedalda Riau, pada akhir Desember 2008.
Ketulusan dan ikhlas dalam mengemban amanah dari pengalaman hidup telah diwujudkan dalam keberhasilan pembangunan yang beliau torehkan. Beberapa program itu antara lain PNPM, Perumahan Layak Huni buat rakyat miskin di Lembah Damai, Kecamatan Rumbai-Pekanbaru dan di Kabupaten/Kota lain di Provinsi Riau. Firdaus ”Terus Berkarya Buat Negeri”.
Kemudian, pembangunan infrastruktur yang menjadi program unggulan Gubernur Riau HM Rusli Zainal dapat pula diterjemahkan dengan baik oleh Firdaus. Hingga wajah Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi ini benar-benar telah berubah.
Setelah terpilih sebagai Walikota Pekanbaru periode 2012 – 2017, beliau mencanangkan TRILOGI sebagai Falsafah Kerja Pemko Pekanbaru yang terbukti membawa keberhasilan Nyata, 2 SKPD Pemko Pekanbaru ditunjuk sebagai Rujukan Nasional oleh KemenPAN-RB, belum lagi Program-Program Beliau yang berpihak kepada masyarakat seperti Program Rumah Layak Huni yang dibangun sebanyak 250 Unit setiap tahunnya.
Demi melanjutkan Program Pembangunan yang telah Beliau jalankan, maka Beliau akan Maju kembali sebagai Calon Walikota Pekanbaru Periode ke 2 untuk masa Jabatan 2017 – 2022,DR.Firdaus.ST.MT sudah menjabat sebagai Walikota Pekanbaru untuk periode kedua.
Pada tanggal 15 Agustus 2016, H. Firdaus, ST, MT resmi menyandang gelar Doktor (DR) setelah dikukuhkan dalam Sidang Promosi Doktor Ilmu Pemerintahan Program Pascasarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Balairung Rudini IPDN Bandung lulus Cum Laude dengan IPK 3,8. Kemudian dikukuhkan pada Sidang Terbuka Senat Institut Pemerintahan Dalam Negeri Wisuda Lulusan Program Diploma IV, dan Program Sarjana (S1) Program Profesi Kepamongprajaan Program Magister (S2)dan Program Doktor (S3) Institut Pemerintahan Dalam Negeri Republik Indonesia di kampus IPDN Jatinangor, Ahad, 7 Agustus 2016 DR. Firdaus. ST. MT terus melanjutkan program program yang berpihak dengan masyaraka melanjutkan program pembangunan yang telah beliau jalankan Dua periode menjabat sebagai Walikota Pekanbaru ,Kota Pekanbaru meraih prestasi yang begitu banyak ,prestasi yang dimiliki masyrakat atas kebersamaan masyarakat bersama Walikota Pekanbaru,Bnyak prestasi yang diraih sehingga mnjadikan kota pekanbaru menjadi daya tarik menjadi contoh bagi Kab/Kota Provinsi di indonesia .Atas Kepemimpinan DR. H. Fidaus.ST.MT Beliau Di percaya oleh Tokoh, dan Masyarakat Provinsi Riau Untuk Maju Dan Ikut dalam pesta Demokrasi Pemilihan Gubernur Riau 2018 Dengan Visi Mewujudkan Riau Madani Berkemajuan Berkeadilan.

MENARIK DIBACA:  Sinergi Pegadaian dan IZI berikan Bantuan Usaha di Tengah Pandemi Wabah Corona

DR. H. Firdaus. ST. MT menyebutnya dengan panggilan negeri, demikian motivasi yang melecut hingga mencalonkan diri bersama tandemnya Rusli Effendi, pria yang mengawali karirnya sebagai honorer di Dinas PU pada 1981 tersebut bercerita, bahwa niatnya itu bukan lantaran ambisi semata, melainkan demi membangun Riau menjadi Madani, berkemajuan serta berkeadilan.
”Pertama ini panggilan negeri, yakni bumi melayu. Bukan karena ambisi pribadi, tegasDR. H. Fidaus. ST. MT katakan.bahwa ini Panggilan negeri, karena banyaknya yang meminta DR. H. Firdaus. ST. MT agar bersedia memperjuangkan aspirasi masyarakat, berharap mampu untuk membangun Riau lebih baik. Pertimbangan tadi tidak hanya dari satu orang, namun banyak, mulai dari lintas agama, suku, lintas strata dan lainnya” .

MENARIK DIBACA:  M. Arrauf Dosen FH UR Jadi Pemateri Hukum di acara Dialog ICMI Muda Kota Pekanbaru

Disamping hal tersebut, ada dua faktor lainnya yang turut jadi pertimbangan DR. H.Firdaus.ST.MT mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga kurang optimalnya pemanfaatan hasil bumi yang dimiliki negeri Lancang Kuning.
“Faktor kedua adalah masukan dari kementerian lembaga yang ada di pusat, di mana saya sempat berdiskusi, bagaimana menghadapi tantangan resesi (kemerosotan, red) penduduk dunia, bagaimana pemerintah pusat dan daerah bersinergi, sehingga dapat melalui resesi ini dengan tidak membuat kesengsaraan di masyarakat, sekalipun kita sudah merasakan turunnya daya beli saat ini,”

Bicara soal Sumber Daya Alam (SDA) yang turut menjadi alasan DR.H.Firdaus .ST. MT maju, di mana Riau termasuk satu dari sekian penghasil devisa terbesar untuk Indonesia. Namun kenyataannya, pertumbuhan ekonomi negeri ini justru tidak seimbang, bahkan bisa dikatakan rendah. Ini pun turut menuai keprihatinan pemerintah pusat,

“Ini faktor ketiga yang memotivasi DR. H.Firdaus.ST.MT, Bahwa pertumbuhan ekonomi Riau yang rendah. Saat ini, dalam dua tahun terakhir hanya 2,25 persen dan itu di bawah rata-rata nasional. Sementara Riau penyumbang devisa bagi Indonesia, Migas 50 persen dari Riau, sawit yang terluas di Riau, karet dan kelapa juga,”

Dengan pertimbangan itu tadi dan aspirasi-aspirasi yang masuk ke saya, saya berfikir lama dan konsultasi, istikharah minta petunjuk kepada Allah SWT dan bisa menjawab aspirasi tersebut, untuk siap memperjuangkan amanah dan ikut dalam Pilkada. Kami akan membangun Riau, menjadi madani, berkemajuan serta berkeadilan,” yakin dia.
Tak main-main, Firdaus dan Rusli Effendi pun telah menyiapkan sejumlah program untuk mensejahterakan masyarakat Riau, jika seandainya terpilih nanti. Sasaran pertama, yakni pembangunan sumber daya manusia (SDM). Ini strategi tepat menurutnya, disamping Riau kaya dengan sumber daya alam (SDA). Ia pun punya alasan kuat untuk hal yang satu ini.

“Indonesia dengan kekayaan alam melimpah, maka strategi pembangunan pemerintah selama ini kekuatannya dari SDA, berbeda dengan negara lain, seperti Singapura, Jepang dan Korsel, mereka tidak punya SDA dan membangun kekuatan bangsanya dengan SDM yang berkualitas dan hasilnya jadi negara maju dan ekonominya sejahtera,”

Dengan mengedepankan SDM yang berkualitas, disokong pula oleh SDA yang melimpah, tentunya akan mensejahterakan masyarakat Riau. “Kita harus membangun ini. Mengedepankan SDM dengan dukungan SDA yang melimpah. Peluang itu didapat bila merubah strategi pembangunan tersebut,

SDM berkualitas yang dinamainya dengan masyarakat generasi Madani merupakan modal untuk mendongkrak Riau lebih maju. DR. H. Firdaus.ST.MT sadar betul, bahwa hasil alam berupa Migas, sawit hingga karet tidak akan bisa diandalkan untuk jangka waktu 10 sampai 20 tahun ke depan. “Maka kita harus menggali potensi yang ada, kalau pun SDA masih ada, kita tidak menjual mentah seperti sekarang, kita harus mampu membangun industri yang mengolahnya menjadi turunan lain, valuenya ada di industri hilir, bukan Hulu seperti sekarang,”

Merangsek ke sektor lain yang tak kalah menjanjikan, Firdaus juga melirik bidang pariwisata, di mana kecenderungannya terus meningkat. Ditambah pula letak Provinsi Riau yang strategis. Kalaulah ini dimaksimalkan, tentunya dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Besarnya potensi pariwisata Riau akan menjadi andalan ke depan, tentunya dengan perencanaan yang baik. Mulai dari industri yang akan dibangun hingga sektor parisiwata harus direncanakan, disusun rencana induknya, lalu secara bertahap diselesaikan pembangunannya,”

MENARIK DIBACA:  Ribuan Generasi Muda Dengar pidato panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo Soal NKRI

Prinsipnya, 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau harus sama-sama maju, sehingga daya saing daerah meningkat, berkemajuan dan berkeadilan sesuai target yang dikonsep DR. Firdaus.ST.MT Dengan begitu, maju dalam segala bidang, baik SDM dan wilayah, serta adil dalam pemerataan pembangunan, baik wilayah, suku agama dan sebagainya. “Ini yang disebut Riau Madani berkemajuan berkeadilan”,

Menurut sudut pandangnya, masalah yang dihadapi para pemimpin di Riau ke depan, pertama soal keberanian. “Maka pemimpin Riau harus orang yang visioner, saya mendefinisikannya, punya visi dan cita-cita, mampu dan mau bekerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, disiplin, kreatif, inovatif dan berkomitmen menyelenggarakan pemerintah yang bersih, tata kelola pemerintahan yang baik, mampu melayani, pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat, cepat, tepat, murah dan lebih baik,”

Masalah mendasar di Riau yang membuatnya stagnan dalam lima tahun ini, pertama dikarenakan masalah tata ruang. Bukan tak beralasan, karena itu induk dalam perizinan membangun. “Maka itu harus segera, kalau memang masih ada tarik ulur, pemimpin mesti tegas untuk mengambil kebijakan,” katanya.

Dengan begitu, tentu akan mendorong investasi masuk,jika pun belum, tentunya pemimpin harus berani mengambil langkah. “Harus berani memverifikasi tata ruang kabupaten kota yang telah diajukan, karena regulasinya ada, membolehkan, tidak harus menunggu tata ruang itu jadi baru gubernur memverifikasi. Karena tata ruang itu induknya. Tanpa investasi kita tidak bisa membuka peluang kerja yang lebih banyak.

Secara keseluruhan, baik nasional maupun daerah, investasi pemerintah dalam membangun hanya 10 persen, 90 persen lagi adalah dunia usaha. Maka sebab itu investor akan masuk bila mana mampu memberikan pelayanan perizinan yang cepat, kemudian keamanan, didukung infrastruktur yang baik. Langkah awal kita bagaimana tata ruang diselesaikan,” optimisnya.

Jika ini sudah mulus, rancangan pembangunan berikutnya dapat berjalan optimal, tentunya dengan konsep untuk generasi mendatang. Balik lagi, kunci lainnya juga bergantung dengan SDM yang berkualitas, terutama generasi muda (Milenial usia 15-34 tahun sekarang, red). “Karena mereka lah nanti yang akan bermain di panggung, sebab itu, generasi milenial harus disiapkan menjadi SDM berkualitas, mandiri dan tangguh,

Untuk membangun generasi yang berkualitas, tentunya tidak bisa dengan upaya pemerintah semata. DR. Firdaus.ST.MT pun merujuk pada pesan lawas dari ibundanya, agar menjadi anak yang pintar dan taat beragama, yang dimulai dari hal terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, ada tiga wilayah yang berperan mewujudkan itu semua, disamping peran fungsi pemerintah.
“Saya selalu sampaikan, membangun generasi berkualitas, maka ada tiga wilayah yang berperan. Pertama rumah tangga, lalu sekolah dan kemudian lingkungan masyarakat. Siapa mereka, yaitu orangtua, guru dan tokoh masyarakat. Maka, setiap rencana pembangunan dan cita-cita akan berhasil, bila tiga elemen bisa bekerja bersinergi”.tutup Tokoh Riau itu.