Kasus DBD Meningkat, Dinkes Meranti Himbau Untuk Antisipasi

0
93
Muhammad Fahri SKM, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Sumber foto: Riau24

MERANTI (HPC) – Penyakit penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa menular dan menyerang siapa saja, baik anak-anak ataupun dewasa, baik tinggal di kota maupun di desa. Kesadaran terhadap lingkungan perlu diperhatikan untuk mencegah penyebaran penyakit DBD.

Menurut data Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Angka kejadian Kasus penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga bulan september 2019 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, sebanyak 18 kasus dibulan September dibandingkan 7 kasus dibulan lalu.

Kejadian kasus DBD tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang sebanyak 36 kasus dan Puskesmas Alah air sebanyak 29 kasus tahun 2019.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan melalui bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Muhammad Fahri SKM menjelaskan, masyarakat harus antisipasi terhadap wabah penyakit DBD apalagi saat ini kondisi pancaroba panas dan hujan, Senin (30/09)

MENARIK DIBACA:  Pospore Siap Kawal Pemerintahan Umara

“Saat hujan ini tentu kita antisipasi pencegahan dengan melakukan fogging titik lokasi serta memberikan serbuk Abate ke seluruh Puskesmas. Abate dibagikan ke rumah warga untuk dimasukkan ke penampungan air hujan”terang Fahri

Edukasi yang perlu disampaikan, Muhammad Fahri menjelaskan terkait pengendalian penyakit DBD jika ada keluarga yang tertular  DBD dan dirawat di Rumah sakit maka Rumah sakit mengirimkan data SNol ke Dinas Kesehatan.

SNol berisikan data nama pasien, alamat rumah, hasil laboratorium serta diagnosa Demam Dengue (DD) atau Demam Berdarah Dengue (DBD). Hasil SNol menjadi rujukan bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit untuk disampaikan ke Puskesmas. Selanjutnya Wilayah kerja Puskesmas melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE).

MENARIK DIBACA:  Senin Besok Masyarakat Desa Sungai Ara Aksi Damai Di Kantor Bupati Pelalawan

“Setelah dilakukan PE maka penanganannya apakah perlu dilakukan fogging atau tidak. Fogging bisa saja tidak dilakukan jika penyakit DBD tertular dari luar daerah, misal pasien sakit setelah pulang dari luar kota. Namun kalo ada penyebaran penyakit DBD maka perlu dilakukan fogging” jelas Fahri

“Sejauh ini Dinas Kesehatan sudah melakukan sosialisasi pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Jumantik (Juru Pemantau Jentik), Fogging dan pemberian serbuk abate disetiap wilayah kerja Puskesmas” tambahnya

“Terkait kejadian peyakit DBD bulan ini yang tertinggi selama tahun 2019, Dinas kesehatan menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan antisipasi dengan melaksanakan pencegahan 3M (Menutup, Menguras dan Mengubur bekas tempat yang bisa menampung air)”. Tutup Fahri Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. (MF)

MENARIK DIBACA:  Mushalla Al-Irsyad Jl. Rintis Resmi di buka Stap ahli Bupati