Menjadi Nara Sumber Seminar Nasional Webinar Pembangunan Industri Berbasis Sagu Terpadu dan Berkelanjutan, Bupati Irwan Usul Perum Bulog Harus Masuk di Bisnis Sagu

0
44

MERANTI (HPC)-Kondisi dunia ditengah Pandemi Virus Covid-19 sangat menghawatirkan, dimana sejumlah negara pengekspor Pangan dunia khususnya beras mulai menyetop ekspor mereka untuk menjaga ketersediaan pangan dinegaranya, bagi negara pengimpor beras seperti Indonesia untuk mengatasi ketergantungan beras tak ada cara lain selain berupaya mewujudkan ketahanan pangan Nasional, salah satu Pangan pokok potensial yang paling layak dikembangkan di Indonesia adalah tanaman asli Indonesia tanaman Sagu.

Hal itu terungkap dalam acara Seminar Serial Webinar Pembangunan Industri Berbasis Sagu Terpadu dan Berkelanjutan yang ditaja oleh Dewan Guru Besar Institute Pertanian Bogor (IPB) dimana Bupati Kepulauan Meranti menjadi salah seorang Narasumber dari 4 Narasumber lainnya, Selasa (10/5/2020).

Turut berpartisipasi dalam kegiatan itu, Rektor IPB Prof. Arif Satria, Para Nara Sumber Guru Besar IPB Prof. Dr. Ir. MH. Bintoro, Direktur Pengadaan Perum Bulog Wibisono Poespitohadi, Bupati Kepulauan Meranti Drs. H. Irwan Nasir M.Si, Direktur PT. ANJ Tbk Fahri Karim, Pembahas Prof. Tajudin, Para Guru Besar dan Dosen Pengajar diberbagai Perguruan Tinggi, Praktisi Hukum, Para Peneliti, Konsultan, Pihak Perusahaan Bergerak Dibidang Pengolahan Sagu, bertindak sebagai Moderator Prof. Hadi Soesilo Arifin dari IPB.

Dalam Diskusi tersebut, dibahas tentang persoalan Pangan yang sudah menjadi masalah bagi semua dan Pangan Sagu telah menjadi sebuah topik paling hangat untuk dibahas karena memiliki potensi yang besar. Tercatat luasan Kebun Sagu Indonesia melebihi 5 Juta Ha yang tersebar dibeberapa pulau seperti di Sumatera, Sulawesi, Papua dan Maluku.

Nantinya hasil pemaparan Pangan Sagu dari para Nara Sumber yang sebagian besar merupakan Profesor dan Akademisi akan dijadikan sebuah rumusan untuk diserahkan kepada pengambil keputusan ditingkat pusat daerah dan kabupaten.

Dalam pemaparannya Bupati Kepulauan Meranti Drs. H. Irwan M.Si yang juga Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Indonesia (Fokus-Kapassindo), menjelaskan, total Luasan Kebun Sagu di Meranti 53.664 Ha, kebun-kebun Sagu ini tidak lagi berupa tanaman hutan tapi sudah diolah secara budidaya oleh masyarakat sehingga hasil produksinya sangat baik.

Dari Luasan Kebun Sagu tersebut, sebanyak 40 ribu Ha merupakan Kebun Sagu milik rakyat dan 14 Ribu Ha merupakan kebun milik perusahaan/swasta. Dari 53 ribu Ha Luasan Kebun Sagu di Meranti dapat memproduksi Tepung Sagu sebanyak 241.277 Ton/Tahun.

Sebagian besar hasil produksi Tepung Sagu Meranti karena keterbatasan fasilitas belum dapat diolah didaerah tetapi dikirim ke Cirebon, tercatat 12 Ribu Ton/Bulan atau bisa dikatakan 70 persen pasar Sagu Cirebon berasal dari Meranti.

Menurut Bupati Irwan yang menjadi masalah dalam mengembangkan Sagu saat ini adalah dari segi pemasaran, pergudangan/penyimpanan.

MENARIK DIBACA:  Sedang Asyik Servies TV DPO Narkorba Kantongi Barang Haram 0,40 Gram di Ciduk Polisi

“Sehingga 70-80 persen Sagu produksi Kepulauan Meranti terpaksa dilakukan titip jual di Cirebon dimana tiap kali penjualannya dipotong 7 persen,” jelas Bupati Meranti.

Lebih jauh dikatakan Bupati, sejak bertahun-tahun yang lalu Pemerintah Daerah telah mengupayakan memutus mata rantai diatribusi ini dengan meminta Perum Bulog untuk membeli hasil produksi Sagu Meranti namun belum terwujud.

Jika Pemerintah Pusat bisa turun tangan menyediakan jalan-jalan produksi, jaringan listrik, fasilitas komunikasi tentunya akan memberikan keuntungan bagi para pengusaha Sagu, serta masyarakat yang menggeluti usaha Sagu di Meranti.

Jika saat ini Pemerintah berupaya mewujudkan ketahanan pangan Nasional, menurut Bupati Irwan inilah saatnya Pemerintah fokus pada pengembangan Sagu sebagai Pangan alternatif pengganti beras sekaligus menekan Import beras Nasional.

Pemkab. Meranti diakui Bupati sangat menyadari potensi Sagu sebagai alternatif pangan pengganti beras dengan terus berupaya memberdayakan kilang-kilang Sagu rakyat melalui penerapan teknologi, membuka akses pemasaran hingga menyediakan fasilitas kepelabuhan dan pergudangan.

Namun hal itu dikatakan Irwan belum cukup, Pemerintah Pusat melalui Perum Bulog harus turun tangan memasukan Sagu dalam managemen Logistik Nasional. Caranya dengan menampung dan membeli hasil produksi Sagu masyarakat layaknya Bulog membeli beras sehingga memberikan jaminan kepada masyarakat pengolah Sagu disektor pemasaran.

Jika Bulog mampu turun tangan maka hasil produksi Sagu masyarakat tak perlu lagi dijual kepada Katel Sagu yang selama ini memonopoli pasar Sagu di Meranti bahkan mungkin di Indonesia.

Sejauh ini Pemda Meranti telah membangun Pabrik berskala kecil yang dapat mengolah Sagu menjadi beras Sagu dengan kapasitas 700 Kg/Hari dan mampu memproduksi 20 Ton Sagu basah/hari yang dapat diolah menjadi berbagai makanan seperti Mie dan lainnya.

“Untuk itu kami mengundang Perum Bulog untuk melakukan kerjasama operasi masuk scara serius di Industri Persaguan, dengan begitu kami yakin Sagu akan menjadi sesuatu yang akan membuat Indonesia mencapai kedaulatan pangan,” tegas Bupati.

Penjelasan Bupati Meranti juga diperkuat oleh Direktur ANJ Papua Fahri Karim, salah satu perusahaan besar pengolah Sagu di Papua, menurutnya tidak ada jalan lain menciptakan ketahan Pangan nasional selain memanfaatkan potensi Sagu yang saat ini belum terkelola secara maksimal.

“Kami menilai sudah saatnya Sagu masuk dalam Managemen Logistik Bulog,” ujar Fahri Karim.

Sehingga masalah yang menghantui petani hingga pengusaha Sagu saat ini dapat dituntaskan, masalah itu adalah Sagu dikenakan Insentif, Pajak dan tidak ada Subsidi seperti layaknya beras, selain itu kurangnya Infrastruktur pendukung, Konektifitas dan tidak masuknya Komodity Sagu dalam Pangan strategis Nasional.

MENARIK DIBACA:  Bantu Masyarakat Sakit, Bupati Teken MoU Pengelolaan Ambulace laut dan darat antara Pemda Meranti dan Baznas

Untuk menjadikan Sagu sebagai komodity pangan alternatif dalam mewujudkan kemandirian Pangan Nasional, dikatakan Bupati Meranti juga diperlukan Goodwill dari Pemerintah Pusat untuk membuat Sagu lebih dikenal oleh masyarakat, misal Sagu merupakan makanan yang memiliki nilai Gizi tinggi, rendah Gula, kaya Karbohidrat, cocok untuk Diet, dan mampu menyembuhkan penyakit Gestrik.

Tidak seperti saat ini Sagu seperti dianak tirikan atau dimarginalkan dengan menjadi makanan kelas dua menurut Irwan pemirian inilah yang harus diubah oleh Pemerintah bersama-sama dengan daerah,

Selain itu juga dilakukan Diversifikasi Sagu yang diolah menjadi berbagai menu makanan dan minuman yang nikmat. Dan dalam hal ini Meranti telah berhasil menciptakan hampir 400 jenis varian makanan olahan Sagu yang dibuktikan dengan diraihnya Rekor MURI.

“Jika tidak ada Goodwill dari Pemeirntah untuk menjadikan Sagu sebagai makanan statregis Nasional maka sampai kapanpun Sagu tidak akan menjadi Pangan statregis Nasional,” ucap Irwan.

Irwan juga mengatakan jika Presiden mengatakan setelah Pandemi Covid-19 akan muncul era baru maka nantinya juga akan muncul New Habbit dari yang biasanya masyarakat mengkonsumi beras menjadi makan Sagu.

Menyikapi saran dan masukan dari Bupati Meranti Irwan Nasir untuk menjadikan Sagu sebagai Pangan Stategis Nasional dimana Bulog masuk kedalam Managemen bisnis Sagu, Direktur Pengadaan Bulog Wibisono Poespitohadi mengatakan, diperlukan kerjasama dan koordinasi maksimum antar Kementrian diantaranta Kementrian Koordinator Bidang Ekonomi untuk usulan Sagu sebagai pangan pokok dan memberi penugasan pada Perum Bulog masuk dalam bisnis Sagu, Kementrian Lingkungan Hidup dan PU PR untuk penyediaan Infrastruktur pendukung Industri Sagu, Kementrian Pertahanan untuk menjaga wilayah Sagu yang banyak tumbuh didaerah pantai, Kementrian Pertanian untuk membina para petani, Kementrian Perhubungan untuk akses, Kementrian Perdagangan untuk menangani pemasaran ekspor-Import, serta pihak suasta yang sudah menjalankan bisnis Sagu saat ini.

Sehingga Bulog dapat melaksanakan perannya dalam hal mewujudkan ketersediaan pangan, keterjangkauan dan stabiltas harga pangan Nasional.

“Dari Segi Hilir Bolog akan membentuk Managemen yang mumpuni disektor pergudangan untuk penyimpanan, industri untuk pengolahan Sagu menjadi tepung, Segi tengah bekerjasama dengan pihak swasta untuk memasarkan dan dari Segi Hulu dapat menyalurkan kepada masyarakat dan warga miskin penerima manfaat dari Pemerintah,” jelas Wibisono.

Saat ini dari kacamatanya yang menjadi kedala dalam pengembangan Potensi Pangan Sagu meliputi 3 tantangan yakni keterbatasan Infrastruktur, Minimnya Industri Sagu, serta Aspek Pemasaran yang hanya menyentuh 5 persen dari keseluruhan total produksi.

Sementara itu Narasumber lainnya yakni Rektor Institute Pertanian Bogor Prof. Dr. Arif Satria, mengatakan, masa Pandemi Covid-19 ini diharapkan menjadi momentum bagi kemandirian pangan Nasional. Karena sebagian besar negara pengekspor beras sudah menahan stok pangannya untuk kebutuhan dalam negeri. Bagi Indonesia tak ada jalan lain selain menciptakan kemadirian Pangan Nasional. Salah satu komodity yang paling layak untuk mewujudkan kemandiran pangan Nasional adalah Sagu yang belum termanfaatkan secara maksimal.

MENARIK DIBACA:  Wakil Bupati Meranti Buka Rakor Kepala Sekolah, Bangun Sinergitas Majukan Dunia Pendidikan Meranti

Menurut Rektor IPB, saat ini perlu disusun sebuah program terintegrasi bagaimana cara menanan, mengolah, mengelola Logistik, mengkonsumsi serta memasarkan Sagu. Nantinya program ini akan disampaikan kepada Pemerintah dapam hal ini Presiden RI sebagai acuan mengeluarkan kebijakan ketahan Pangan.

Arif Satria berpendapat Pangan Sagu akan menjadi Perspektif baru seperti Future Food atau Pangan masa depan. Jika dulunya pada generasi pertama Gula hanya bisa dihasilkan dari Tebu, kini pada Next generation gula dapat dikembangkan dari limbah Sawit.

Begitu juga Future Protein jika dulunya Protein bersumber dari Daging Sapi kini dengan kemajuan teknologi yang luar biasa dapat diolah dari Sayuran sehingga pangan menjadi lebih beragam dan mudah didapat.

“Sudah saatnya kita berfikir bagaimana menciptakan Pangan masa depan, salah satunya dengan mengispirasi semua bagaimana Sagu dapat menjadi sumber pangan alternatif potensial,”ujar Prof. Arif.

Sementara itu Nara Sumber Prof. Dr. Bintoro memaparkan, dengan luasan kebun Sagu Indonesia yang mencapai 5.5 Juta Ha, harusnya Indonesia tidak perlu lagi mengimpor beras jika dapat dikelola secara maksimal.

Begitu juga Gula, Minyak Bumi yang produksinya menurun namun konsumsi terus meningkat padahal bahan bakar ini bisa diolah dari Sagu menjadi Bio Metanol.

Saat ini Potensi Sagu Indonesia hanya termanfaatkan sebanyak 10 persen dimana sisanya dibiarkan tak terurus dan mati.

Salah satu daerah yang konsen dalam mengelola Sagu dikatakan Prof. Bintoro adalah Kabupaten Meranti dengan luasan kebun mencapai 50 ribu Ha berhasil memproduksi 241 Ribu Ton Sagu/Tahun.

“Jika Pemerintah bisa mengelola dan memanfaatkan potensi Sagu seluas 5.5 Juta Ha ini maka akan dapat memproduksi pangan sebanyak 100-200 Juta Ton/Tahun, melebihi kebutuhan pangan Nasional yang hanya berkisar 30 Juta Ton/Tahun,” jelasnya.

Sekedar informasi turut mendapingi Bupati, Kapolres Meranti AKBP. Taufik Lukman, Asisten II Sekdakab. Meranti Drs. Asroruddin, Kepala Dinas Perkebunan Meranti T. Efendi, Kabag Ekonomi Sekdakab. Meranti Abu Hanifah, Kabag Humas dan Protokol Meranti Rudi MH, Kabag Perbatasan M. Nazar, Kabag Kominfo Meranti Wan Fahriarmi, Sekretaris Perindag Meranti, Sekcam Tebing Tinggi Timur Alfian dan sejumlah pejabat lainnya. (Humas Pemkab. Meranti).