Mendorong Sagu Meranti Sebagai Komoditas Pangan Nasional

0
85
Agusyanto Bakar, SSos, MSi
Agusyanto Bakar, SSos, MSi

Oleh : Agusyanto Bakar, SSos.,MSi
Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Meranti

ARTIKEL (OPINI) -Kabupaten Kepulauan Meranti yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkalis adalah Kabupaten termuda di Provinsi Riau. Luas Kabupaten Kepulauan Meranti sekitar 3.707,84 km2 berada pada jalur pelayaran Selat Malaka, berbatasan dengan dua negara tetangga : Malaysia dan Singapura. Kabupaten Kepulauan Meranti juga terletak di pesisir timur pulau Sumatera dengan topografinya yang berbentuk rawa-rawa dan bergambut. Di daerah lahan gambut kepulauan Meranti, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Ir. Hasyim Bintoro, M. Agr, ahli sagu dari IPB, penanaman sagu tidak hanya berhasil mencegah subsiden, namun juga memungkinkan konservasi flora dan fauna yang ada di areal tersebut, karena dalam proses penanaman sagu di lahan gambut, pelaku tidak harus melakukan land clearing.

Dalam konteks ini, tak berlebihan bila di katakan bahwa Kabupaten Meranti merupakan salah satu kawasan pengembangan ketahanan pangan nasional karena merupakan daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia.

Tak pelak, sagu Meranti mampu beradaptasi dengan tanah yang memiliki kandungan air asin, maka dengan hanya membutuhkan sedikit perawatan saja intensitas dan tingkat produktivitasnya akan menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan tanaman pangan atau tanaman karbohidrat lainnya dalam kondisi demikian. Apa lagi luas wilayah pesisir Indonesia dua per-tiga dari luas daratan nasional, maka dengan karakteristik sagu yang adaptif tersebut, tentu sagu sangat menjanjikan sebagai tanaman pangan alternatife dan sebagai bahan baku agroindustri yang potensial dalam rangka ketahanan pangan nasional. Saat ini saja perkembangan konsesi sagu rakyat di Kepulauan Meranti di tahun 2016 ini mencapai kurang lebih 42,000 ha yang tadinya hanya sekitar 30,000 ha di tahun 2011 ditambah lagi dengan keberadaan sekitar 68 kilang sagu aktif. Perkebunan sagu yang menjadi komoditas andalan di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan varietas terbaik dengan produksi sekitar 276 ribu ton per tahun. Bahkan sagu Kepulauan Meranti telah menembus pasar di negara Asia Timur dan Asia Barat.

Berbagai upaya telah di lakukan oleh Pemerintah Kabupaten Meranti untuk menjadikan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai cluster sagu : Sagu Meranti di harapkan tidak hanya berkontribusi dalam memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, tapi juga di dorong untuk dapat tampil menjadi komoditas pangan nasional. Bahkan Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir secara tegas mengatakan, sebagai Kabupaten yang baru berkembang tentunya mengejar segala ketertinggalan pembangunan di berbagai bidang, salah satunya adalah pembangunan bidang perkebunan dan lebih khususnya lagi adalah pengembangan sagu.

Pengembangan perkebunan sagu di Kabupaten Meranti tentu menjadi komitmen Sang Bupati yang diimplementasikannya dalam berbagai event, momen dan Program Kerja melalui SKPD terkait. Betapa tidak, mulai dari pelaksanaan Festival Sagu Nusantara di Jakarta yang diselenggarakan pertama kali dengan tujuan untuk memperkenalkan makanan sagu pada level nasional dan internasional, juga untuk mendukung program pemerintah dalam upaya ketahanan pangan di Indonesia. Upaya untuk terus mendorong perkebunan sagu juga dilakukan melalui kesepakatan Momerandum of Understanding (Mou) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknolgi (BPPT) dalam melakukan kajian meningkatkan hasil produksi tepung sagu dari setiap tual (batang) sagu untuk meningkatkan produksinya. Bahkan Pemerintah Kabupaten Meranti mampu melakukan kerjasama untuk menguntungkan daerah dengan pola sharing budget menyangkut pengembangan sagu. Tak berhenti sampai di situ, bahkan juga MURI telah mencatat karya yang luar biasa dalam kategorisasi makanan sagu asal Meranti yang telah diolah dan diperkaya dengan berbagai aneka kreasi dan jenis makanan yang mampu menghasilkan 369 menu berbahan dasar sagu dan telah dianugerahi Rekor MURI baru-baru ini.

Bahkan Pemerintah Kabupaten Meranti berusaha untuk selalu menitikberatkan, memfokuskan dan mengelaborasi aneka perencanaan, perhatian serta anggaran daerah pada pengembangan perkebunan sagu.

Beberapa usaha konkret yang sudah dilaksanakan antara lain pemberian bibit sagu unggul, program pelepasan varietas untuk dikembangkan menjadi kebun induk serta rencana program penangkar yang memungkinan para pengusaha sagu untuk mendapatkan bibit sagu penghasil tinggi yang bersertifikat. Setiap tahun anggaran, Pemerintah Kabupaten Meranti kerap mengadakan workshop : Bimbingan bagi para petani sagu untuk meningkatkan cakrawala berfikir dan wawasan menyangkut pembibitan, pemeliharaan, pengelolaan, pengemasan hingga pemasaran produk sagu.

Dalam konteks ini pula, Pemerintah Kabupaten Meranti bahkan telah bekerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI).
Sagu sebagai bahan pangan lokal, kendati demikian dalam pelestarian dan pengembangannya sangat di perlukan tindakan integratif-terpadu dari berbagai pihak, terutama masyarakat itu sendiri yang justru berada dalam kapasitas yang menjadi faktor krusial yang menentukan masa depan sagu. Apa lagi, program pelestarian dan pengembangan sagu hanya akan dapat berjalan secara rutin, semua tentunya tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, terutama masyarakat.

Dus, dalam rumusan lain dapat di katakan, berbagai upaya yang telah di lakukan oleh Pemerintah Kabupaten Meranti dalam melestarikan dan pengembangan sagu sangat memerlukan faktor yang perlu diintegrasikan secara sinergis untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah tersebut adalah melalui penghayatan masyarakat. Dikatakan demikian, sebab tanpa penghayatan masyarakat tentunya suatu kebijakan yang sudah tertata dan di susun tidak akan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dalam kerangka penghayatan masyarakat inilah, maka guna melestarikan dan mengembangkan sagu di perlukan berbagai upaya sosialisasi dan aksi nyata secara masif kepada masyarakat yang dilakukan secara terus menerus dan sustainable.

Pertama, membangunkan kesadaran masyarakat dalam memandang eksistensi sagu sebagai sumber pangan yang merupakan kebutuhan primer yang harus di penuhi. Karena kebutuhan akan pangan menjadi tonggak penting bagi kesejahteraan manusia. Kebutuhan dasar manusia adalah fisiologis yang didalamnya termasuk pangan, kata Maslow. Sagu secara turun temurun telah teruji mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat. Bahkan lebih dari pada itu, sagu yang merupakan sumber pangan tidak saja mengandung nilai ekonomis, tapi juga tata nilai sosial-budaya dan ekologis terkandung di dalamnya. Artinya, apabila sagu bisa di kelola secara baik tentunya akan melahirkan multi nilai prospek yang cerah dalam mendukung ketahanan pangan baik lokal maupun nasional. Bahkan secara tersirat, sagu juga menggambarkan nilai filosofis di dalamnya. Filosofis pohon sagu menurut Papilaya dalam Numberi (2011 : 20) adalah diluarnya berduri, tetapi di dalamnya putih berseri. Dalam konteks ini mungkin tak berlebihan bila di katakan, filosofis pohon sagu ini menggambarkan nilai edukatif dari karakteristik masyarakat yang mengkonsumsi sagu sebagai masyarakat yang berbudi pekerti luhur yang merupakan pondasi dalam kehidupan masyarakat seperti halnya masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti. Kulit pohon sagu memang keras, tapi tak semata merupakan representatif dari karakteristik masyarakat yang keras, namun hal itu lebih menggambarkan karakteristik masyarakat yang teguh dalam memegang komitmen dan janji.

Kedua, membuka ruang untuk mendidik masyarakat dalam memaksimalkan peluang pelestarian dan pengembangan sagu. Program ini tentunya harus dilakukan secara berkelanjutan yang di tangani oleh SKPD terkait. Anggaran untuk itu juga harus di alokasikan dari setiap SKPD yang bersangkutan.

Ketiga, upaya menggerakkan partisipasi masyarakat dalam merehabilitasi kondisi areal sagu sehingga tetap dapat terjaga keaslian dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat serta kearifan lokal yang ada dapat pula terjaga dengan baik.

Keempat, membangun paradigma berfikir tentang nilai sagu itu sendiri dengan merubah mindset bahwa mengkonsumsi sagu tidak kalah terhormatnya dari mengkonsumsi beras, sehingga tidak ada perbedaan strata dan status sosial ketika mengkonsumsi sagu. Hal ini di pandang penting untuk di sampaikan, karena selama ini masyarakat maupun pelaku usaha kerap memandang pangan non beras seperti sagu sebagai bagian dari makanan “inferior” dibandingkan beras.

Kelima, melakukan gerakan menekan tingkat konsumsi beras di tengah-tengah masyarakat dan mendorong peningkatan konsumsi pangan non beras seperti sagu yang bersumber daya lokal. Salah satu strategi yang diimplementasikan untuk itu adalah dengan mengampanyekan untuk mengurangi konsumsi nasi melalui gerakan “One Day, No Rice”. Gerakan ini juga merupakan salah satu dari jalinan ikatan mata rantai tak terpisahkan dalam menyukseskan diversifikasi pangan, senada dengan ungkapan Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Mulyono Machmur : Gerakan mengurangi makan nasi merupakan bagian upaya pemerintah menyukseskan diversifikasi pangan nasional. Maka melalui kampanye ini konsumsi beras di tengah-tengah masyarakat berpotensi untuk bisa dikurangi dan menggantikannya dengan makanan pokok lainnya atau pangan lainnya seperti sagu. Hal ini agar tingkat ketergantungan pangan pada beras bisa diminimalisir, sehingga stabilitas pangan bisa tetap terjaga. Intinya, bagaimana menggugah kesadaran masyarakat, bahwa tanpa makan nasi pun bisa, sehingga melahirkan semacam pameo : “Belum kenyang, kalau belum makan sagu!”.

Dengan demikian, secara konseptual upaya pelestarian dan pengembangan sagu secara sustainable bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan baik lokal maupun nasional. Ketahanan pangan tidak saja mencakup ketersediaan pangan yang cukup, tapi juga kemampuan aksesibilitas termasuk membeli pangan serta tidak tergantung pada satu sumber pangan saja. Ini dilakukan untuk mengurangi permintaan dan ketergantungan intens masyarakat terhadap bahan pokok beras yang sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor beras yang kerap menimbulkan eksploitasi ekonomi-politik oleh negara-negara eksportir, paralel dengan visi dan misi Presiden Jokowi : Pangan menjadi urutan teratas yang harus diselesaikan, sehingga masyarakat di Indonesia bisa lebih mandiri dan tidak ketergantungan dengan negara luar.

Olah karenanya dalam konteks ini tidak saja di butuhkan perubahan pola konsumsi masyarakat, tetapi juga perubahan cara pandang dan komitmen pemerintah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan nasional melalui kebijakan diversifikiasi pangan secara konsisten terutama menyangkut sagu Meranti yang di pandang layak untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan dan strategis secara nasional. Bahkan presiden Jokowi saat kunjungannya ke Desa Sungai Tohor Kecamatan Tebing Tinggi Timur akhir tahun 2014 lalu, mengatakan bahwa Kepulauan Meranti merupakan daerah yang sangat berpotensi untuk berkembang dan maju, karena Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki perkebunan sagu yang dapat menjadi sumber pangan alternatif.

Namun harapan itu sepertinya kontraproduktif dengan sikap inkonsistensi Pemerintah Pusat itu sendiri dalam mendukung pemanfaatan dan pengembangan bahan pangan lokal, terutama sagu. Betapa tidak, disatu sisi Peraturan Presiden Nomor : 22 Tahun 2009 berbicata tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Namun pada sisi lainnya pangan lokal seperti sagu misalnya, belum di tampilkan dan tempatkan sebagai bahan pangan unggulan secara nasional.

Dalam konteks ini pula Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir di berbagai kesempatan kerap menyampaikan kritik-konstruktif-edukatifnya, bahwa Kementerian Pertanian sejauh ini hanya fokus pada tiga pangan pokok saja yakni padi, jagung dan kedelai, sementara sagu belum termasuk didalamnya.
Jadi wajar saja kalau saat ini sagu memang bukan menjadi komoditas pangan yang penting di dunia. Tapi pemerintah mungkin lupa, bahwa Indonesia berpotensi untuk tampil memimpin produksi sagu dan memperkenalkannya pada dunia. Jika pakaian batik bisa menjadi simbol kedekatan Indonesia dengan Afrika Selatan karena Nelson Mandela begitu mengidolakan pakaian batik dan jika bunga anggrek asal Makassar bisa menjadi simbol kedekatan hubungan Indonesia dengan Korea Utara di masa pemerintahan Soekarno, kenapa sagu tidak bisa memainkan perannya dalam diplomasi Indonesia? Wallahuallam.

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah Meranti Magazine Terbitan Humas Meranti Edisi IV Des 2016)